Berita

Airnav Pantau Rute Penerbangan, Pastikan Normal Usai Erupsi Semeru

147
×

Airnav Pantau Rute Penerbangan, Pastikan Normal Usai Erupsi Semeru

Sebarkan artikel ini
e0f817ff3e2a4b7a390a1a880fc59f1b.jpg
e0f817ff3e2a4b7a390a1a880fc59f1b.jpg

Jakarta – AirNav Indonesia menyatakan aktivitas sejumlah rute penerbangan masih relatif normal menyusul erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, hingga Kamis, 20 November 2025. Otoritas penerbangan belum melihat kondisi yang memaksa penutupan ruang udara karena ancaman awan abu vulkanik.

“Sampai informasi ini kami terbitkan, situasinya belum pada kondisi yang memaksa untuk dilakukannya penutupan ruang udara karena ancaman awan abu vulkanik,” ujar EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro.

Situasi normal ini juga berlaku pada bandara-bandara di sekitar Jawa Timur, seperti Malang, Banyuwangi, Surabaya, dan Yogyakarta. “Semuanya masih beroperasi normal. Tidak ada bandara yang ditutup dan sejauh ini tidak ada penerbangan yang dibatalkan,” tegas Hermana.

Kendati demikian, AirNav Indonesia terus memantau secara intensif rute penerbangan dan bandara yang berpotensi terdampak. Perkembangan terkini secara konsisten diinformasikan melalui penerbitan ASHTAM.

“Update terakhir adalah ASHTAM nomor VAWR6038 yang kami rilis melalui International NOTAM Office AirNav Indonesia pada 20 November 2025, pukul 02:00 UTC (09.00 WIB),” kata Hermana.

Dalam laporan itu disebutkan, status Gunung Semeru ditetapkan dengan status “Red Code”. Ini berarti aktivitas letusan cukup signifikan dan berpotensi mengganggu jalur penerbangan.

Abu vulkanik terpantau berada pada dua ketinggian berbeda. Pada level rendah, sebaran abu berada pada permukaan hingga sekitar FL150 (±4.500 meter), bergerak ke tenggara dengan kecepatan angin sekitar 5 knot.

Kemudian sebaran abu pada level tinggi, berada pada permukaan hingga sekitar FL450 (±13.500 meter), bergerak ke barat daya dengan kecepatan sekitar 15 knot.

Hermana menjelaskan, ASHTAM adalah pemberitahuan khusus yang diterbitkan untuk menginformasikan perubahan aktivitas gunung berapi, erupsi, dan awan abu vulkanik yang dapat memengaruhi kegiatan operasional penerbangan.

ASHTAM dirilis AirNav kepada seluruh pihak berkepentingan, baik di dalam maupun luar negeri. Masa berlakunya 24 jam, hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

Informasi teknis dalam ASHTAM menjadi acuan penting bagi seluruh pemangku kepentingan penerbangan dalam pengambilan keputusan terkait mitigasi, penyesuaian rute penerbangan, serta pengaturan lalu lintas udara. Dokumen ini diterbitkan sebagai peringatan keselamatan penerbangan karena Gunung Semeru terpantau masih mengeluarkan abu vulkanik.

Informasi tersebut dikumpulkan oleh NOTAM Office AirNav Indonesia dari berbagai sumber, antara lain citra satelit Himawari-8, kamera pemantau (webcam), serta data dari Pusat Vulkanologi (PVMBG).

Pada pengamatan terakhir sebelum ASHTAM dirilis, abu vulkanik pada ketinggian tinggi sudah sulit terlihat karena tertutup awan cuaca. Namun, model pergerakan menunjukkan abu tersebut akan melemah dalam beberapa jam ke depan.

Sementara itu, abu pada ketinggian rendah masih terpantau jelas dan terus bergerak ke arah tenggara. “Namun trennya saat ini, sebaran abu vulkanik semakin bergerak menjauh dari bandara-bandara sekitar dan rute penerbangan yang berpotensi terdampak,” tutur Hermana.

AirNav juga menghimpun data dari hasil paper test yang dilakukan PT Angkasa Pura Indonesia maupun Kantor Otoritas Bandara (Otban) pada bandara-bandara terdekat. Ini meliputi Bandara Abdurrahman Saleh (Malang), Bandara YIA dan Adi Sucipto (Yogyakarta), serta Bandara Adi Sumarmo (Solo).

“Alhamdulillah, semua hasilnya negatif,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, status kewaspadaan Gunung Semeru ditetapkan pada Level IV (Awas) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Menyikapi itu, AirNav Indonesia secara berkala terus memperbarui informasi ini secara langsung kepada pilot dan maskapai untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga.

Pemutakhiran jalur penerbangan dilakukan apabila diperlukan, sesuai perkembangan terbaru dari pusat informasi vulkanik dan satelit cuaca.