Ecozone

Saham CPIN Terancam Keluar dari MSCI, Potensi Dana Asing Kabur

12
×

Saham CPIN Terancam Keluar dari MSCI, Potensi Dana Asing Kabur

Sebarkan artikel ini
Logo PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk di papan bursa efek
Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berpotensi keluar dari MSCI Global Standard Index.

Jakarta – PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diproyeksikan akan dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dalam tinjauan triwulanan yang dijadwalkan pada Kamis (13/8/2026) mendatang.

Dilansir dari riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, potensi penghapusan emiten tersebut dipicu oleh penurunan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan Foreign Inclusion Factor (FIF) di bawah ambang batas indeks standar setelah harga saham perusahaan terkoreksi sebesar 22,5% sejak tinjauan pada Mei lalu.

Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menyatakan bahwa langkah tersebut diperkirakan memicu arus keluar dana pasif sekitar Rp 500 miliar atau setara dengan 3% dari total kepemilikan asing pada saham tersebut.

Dampak dari penyesuaian ini diprediksi akan memangkas kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia sebesar 1,9% dan menurunkan bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets sebesar 0,01 poin.

Kendati demikian, Wilbert menilai bahwa arus keluar dana pasif akibat penurunan bobot tersebut tergolong relatif kecil dan masih dapat diserap oleh mekanisme pasar domestik.

Nilai arus keluar tersebut dianggap tidak signifikan jika dibandingkan dengan penguatan kinerja pasar saham Indonesia yang terjadi sepanjang Juli 2026.

Lebih lanjut, Wilbert menyoroti bahwa tantangan utama bagi pasar modal domestik saat ini adalah upaya pemulihan bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets yang sangat bergantung pada kebijakan pembekuan penambahan konstituen oleh penyedia indeks.

Apabila kebijakan pembekuan tersebut diperpanjang hingga November 2026, bobot Indonesia diperkirakan akan tertahan di level saat ini, namun kondisi tersebut dianggap telah diantisipasi oleh para pelaku pasar.

Di sisi lain, terdapat peluang bagi pasar negara berkembang untuk mulai pulih seiring dengan pergeseran arah investasi dari sektor saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

“Secara keseluruhan, kami optimis terhadap paruh kedua 2026 dan akan memanfaatkan pelemahan yang didorong indeks sekitar tanggal efektif 31 Agustus untuk mengakumulasi posisi, sambil menahan diri dari memberikan sinyal “aman sepenuhnya” hingga November,” kata Wilbert dalam analisisnya.

Senada dengan analisis tersebut, CGS International Sekuritas Indonesia juga menempatkan CPIN sebagai kandidat utama yang akan didepak dari indeks MSCI berdasarkan kriteria kinerja pasar terkini.

Hasil resmi dari proses penyeimbangan kembali atau rebalancing ini akan diumumkan sebelum pembukaan pasar dan mulai berlaku efektif pada perdagangan 1 September 2026.

Secara terpisah, Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat bahwa bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets mulai stabil di kisaran 0,5% setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam satu dekade sebesar 0,4% pada Juni 2026.

Perbaikan posisi ini didorong oleh kenaikan indeks MSCI Indonesia sebesar 12,5% secara month-to-date, yang berbanding terbalik dengan koreksi 4% pada MSCI Emerging Markets.

Tren positif ini juga didukung oleh menyusutnya nilai jual bersih investor asing menjadi Rp 4,1 triliun, yang menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan rata-rata arus keluar bulanan sebesar Rp 12,3 triliun pada semester pertama 2026.