Berita

Pakar Gempa Tegaskan Rentetan Guncangan di Cincin Api Masih Batas Normal

21
×

Pakar Gempa Tegaskan Rentetan Guncangan di Cincin Api Masih Batas Normal

Sebarkan artikel ini
apakah-rentetan-gempa-di-pasifik-tanda-cincin-api-sedang-aktif?
apakah rentetan gempa di pasifik tanda cincin api sedang aktif?

Jakarta – Sejumlah gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) dalam sebulan terakhir dipastikan bukan pertanda adanya anomali peningkatan aktivitas tektonik global.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan persepsi peningkatan aktivitas tersebut muncul akibat efek klasterisasi waktu.

Fenomena ini terjadi saat sejumlah gempa signifikan muncul dalam periode berdekatan, ditambah dengan masifnya penyebaran informasi di media sosial.

Data USGS mencatat sekitar 500.000 gempa bumi terjadi di seluruh dunia setiap tahun, dengan 90 persen di antaranya berpusat di Cincin Api Pasifik.

Wilayah tersebut secara statistik rata-rata mengalami 1.200 gempa setiap harinya.

Aktivitas kegempaan global saat ini masih berada dalam batas fluktuasi statistik normal.

Secara historis, gempa dengan magnitudo 7,0 ke atas terjadi sekitar 15 kali per tahun, sedangkan gempa bermagnitudo 6,0 ke atas mencapai 130 hingga 140 kali dalam periode yang sama.

Daryono menjelaskan fluktuasi jumlah gempa merupakan siklus alamiah bumi dalam proses pelepasan ketegangan batuan.

Ia memastikan rentetan gempa di luar negeri tidak akan memicu gempa di Indonesia karena sistem lempeng tektonik Tanah Air bekerja secara mandiri.

“Dampak nyata yang harus diwaspadai adalah aktivitas pelepasan energi di zona gempa regional dan lokal di wilayah Indonesia sendiri,” tegas Daryono, Rabu (15/7).

Mitigasi bencana di Indonesia kini harus difokuskan pada dua aspek utama, yakni struktural dan kultural.

Prioritas struktural meliputi penerapan standar bangunan tahan gempa pada infrastruktur vital serta pemeliharaan sistem peringatan dini tsunami.

Secara kultural, edukasi prosedur keselamatan dan simulasi evakuasi mandiri perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk membangun kesiapan mental masyarakat di zona rawan.