Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) segera kedatangan dua emiten baru yang akan melantai di pasar modal dalam waktu dekat. PT Niramas Utama, produsen makanan dan minuman dengan jenama INACO, dan PT Prodia Diagnostic Line (PRDL), perusahaan manufaktur alat kesehatan diagnostik, dijadwalkan melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, PT Niramas Utama dengan kode saham JELI direncanakan mencatatkan sahamnya pada 7 Juli 2026. Berselang dua hari kemudian, tepatnya pada 9 Juli 2026, giliran PT Prodia Diagnostic Line yang akan melantai di bursa.
Dalam masa penawaran awal atau bookbuilding, JELI menetapkan harga di kisaran Rp 900 hingga Rp 1.120 per saham. Melalui penawaran maksimal 350 juta saham biasa atau setara dengan 25,93% dari modal disetor dan ditempatkan penuh, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp 392 miliar.
Sementara itu, PRDL mematok harga penawaran di rentang Rp 100 hingga Rp 120 per saham. Dengan melepas maksimal 522,90 juta saham atau setara 30% dari modal disetor dan ditempatkan penuh, PRDL menargetkan perolehan dana maksimal sebesar Rp 62,74 miliar.
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, menilai prospek PRDL sangat menarik karena didukung oleh tren peningkatan belanja kesehatan pemerintah. Anggaran kesehatan dalam APBN tercatat terus meningkat, dari Rp 218,5 triliun pada 2025 menjadi Rp 244 triliun pada 2026.
Selain itu, keberadaan program cek kesehatan gratis yang menargetkan 140 juta peserta turut menjadi katalis positif bagi PRDL. Perusahaan ini juga dinilai memiliki rekam jejak yang baik dalam memenangkan tender pemerintah, termasuk pengadaan reagen profil lipid senilai Rp 90 miliar pada 2023.
Dari sisi kinerja keuangan, PRDL mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 26,8% dari Rp 58,7 miliar pada 2024 menjadi Rp 74,4 miliar pada 2025. Laba bersih perusahaan bahkan melonjak 69,9% menjadi Rp 17 miliar pada tahun yang sama.
Dengan valuasi price to earnings ratio (P/E) di kisaran 10 hingga 12 kali, Hendry menganggap harga IPO PRDL masih cukup konservatif. Menurutnya, pelaku pasar yang meminati sektor kesehatan dengan kapitalisasi pasar kecil layak mencermati saham ini.
Di sisi lain, JELI mengusung strategi penguatan bisnis konsumen yang telah memiliki fondasi matang melalui jenama INACO. Perusahaan yang berdiri sejak 1990 ini telah memiliki jaringan distribusi luas dan empat fasilitas produksi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, serta Sukabumi.
Hendry menyoroti langkah JELI dalam melakukan integrasi vertikal melalui akuisisi PT Supra Natami Utama pada 2025 guna mengamankan pasokan bahan baku. Langkah ini dinilai sebagai sinyal positif mitigasi risiko volatilitas harga bahan baku.
Terkait valuasi, JELI diperdagangkan pada level P/E 31 hingga 38 kali. Angka tersebut dianggap sejalan dengan pertumbuhan laba perusahaan yang naik signifikan dari Rp 1,4 miliar pada 2023 menjadi Rp 39,4 miliar pada 2025.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menambahkan bahwa investor perlu memperhatikan berbagai aspek fundamental sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, faktor seperti pertumbuhan pendapatan, kualitas manajemen, dan penggunaan dana IPO tetap menjadi penentu utama.
Azis mengingatkan bahwa kondisi pasar dan sentimen saat IPO akan sangat menentukan performa saham dalam jangka pendek. Selain itu, porsi saham beredar atau free float yang rendah juga berpotensi meningkatkan volatilitas harga saham di pasar sekunder.







