Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti solidnya kinerja keuangan emiten di tengah tekanan hebat yang menimpa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski indeks sempat menyentuh level terendah sejak Mei 2021, otoritas bursa menegaskan bahwa fundamental emiten saat ini berada dalam kondisi yang sangat positif.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan bahwa laporan keuangan akhir tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan laba perusahaan tercatat mencapai lebih dari 21 persen. Bahkan, pada kuartal I 2026, perusahaan dalam kelompok indeks LQ45 mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 29,9 persen.
Jeffrey mencatat sekitar 80 persen dari total perusahaan di bursa berhasil membukukan laba bersih sepanjang kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir, melampaui rata-rata periode 2021-2025 yang berkisar di angka 73 hingga 76 persen.
Terkait merosotnya IHSG yang sempat terjun ke level 5.655 pada Kamis pagi, BEI berkomitmen untuk terus memulihkan kepercayaan investor. Otoritas bursa kini berupaya meningkatkan transparansi, memperluas granularisasi data, serta memberikan keterbukaan informasi mengenai konsentrasi kepemilikan saham.
Di sisi lain, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai pasar saat ini masih tertekan oleh sentimen negatif. Menurutnya, pelaku pasar cenderung merespons kebijakan pemerintah yang dianggap kurang pro-pasar secara skeptis.
Sejumlah kebijakan yang menjadi sorotan di antaranya penunjukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai eksportir tunggal, aturan baru mengenai devisa hasil ekspor, hingga intervensi penurunan suku bunga kredit menjadi 8 persen. Kebijakan yang bersifat top-down ini dinilai oleh para investor sebagai langkah yang kurang mendukung iklim bisnis nasional.







