Jakarta – Tren berfoto dengan pose jari membentuk huruf “V” kini menyimpan risiko keamanan baru. Teknologi kecerdasan buatan (AI) dilaporkan mampu mencuri data sidik jari seseorang hanya melalui foto yang diunggah ke internet.
Pakar keamanan siber, Li Chang, dalam sebuah acara di China mendemonstrasikan bagaimana sidik jari dapat diekstrak dari foto selfie menggunakan perangkat AI. Ia memperingatkan bahwa pose tangan yang terlihat sepele ternyata bisa membahayakan data biometrik pribadi.
“Jika bantalan jari langsung menghadap kamera dan difoto dari jarak sekitar 1,5 meter dari lensa, ada kemungkinan besar informasi sidik jari dapat diekstrak dengan cukup jelas,” ujar Li Chang.
Menurut Li, pengambilan foto dari jarak 1,5 hingga 3 meter pun masih memungkinkan sebagian detail sidik jari terlihat. Kekhawatiran ini bukan sekadar teori, mengingat pada tahun 2025 di Hangzhou, China, pelaku kejahatan sempat mencoba membobol kunci pintu pintar menggunakan foto tangan pemilik rumah yang diunggah di media sosial.
Pose “V” merupakan gaya favorit di negara Asia Timur seperti China, Korea Selatan, dan Jepang. Laporan ini memicu keresahan, terutama di Korea Selatan yang warganya gemar berpose dengan berbagai gestur tangan.
“Bukankah pose V itu sudah seperti wajib dalam foto bersama? Ini menakutkan,” tulis salah satu warganet di media sosial Threads.
Selain pose “V”, masyarakat di sana juga populer dengan gaya finger heart, half-heart, hingga flower pose. Meski demikian, Direktur Qianxin Industry Security Research Centre, Pei Zhiyong, menegaskan bahwa rekonstruksi sidik jari memerlukan kondisi tertentu, seperti pencahayaan, fokus, jarak, dan kualitas foto yang mumpuni.
“Lebih aman untuk tidak membagikan terlalu banyak foto yang memperlihatkan jari secara jelas di internet dan hindari menyimpan sidik jari pada perangkat yang tidak sepenuhnya Anda percaya,” imbau Pei Zhiyong.







