Berita

100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Minke Abadi, Inspirasi dari Blora ke Köln

129
×

100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Minke Abadi, Inspirasi dari Blora ke Köln

Sebarkan artikel ini
51f56e925d6e8d6f8cb1da0b0e25e2f8.jpg
51f56e925d6e8d6f8cb1da0b0e25e2f8.jpg

Köln – Suara Pramoedya Ananta Toer terus menggema, dari kesunyian penjara Pulau Buru hingga panggung sastra di Jerman. Karya-karya sastrawan legendaris itu masih dianggap relevan dengan situasi terkini dan membuka jalan bagi sastra Indonesia di Negeri Panser.

Pekikan kata-kata Minke, tokoh utama dalam novel Bumi Manusia, bergema kuat di ruangan Melanchthon-Akademie, Köln, Jerman, pada 27 September 2025. Kutipan “Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barang kali buta huruf pula?” dibacakan dengan penuh penghayatan dalam acara literatur “Die Feder ist stärker als das Schwert” (Pena Bulu Lebih Kuat dari Pedang).

Albert Klütsch, seorang aktivis HAM Jerman sekaligus pegiat literatur, membawa hadirin menengok kembali realitas keras masyarakat Indonesia masa lalu yang masih terasa hingga kini. “Tulisan-tulisan Pramoedya mampu menangkap atmosfer tradisi yang masih menggambarkan masyarakat patriarki pada pergantian abad, namun masih relevan hingga sekarang,” paparnya.

Misalnya, suara Minke yang merasa terhina dan dipermalukan oleh ayahnya sendiri, menurut Albert, “adalah sesuatu yang sebenarnya biasa terjadi di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia di bawah pemerintahan militer.”

Karl Mertes dari Deutsch-Indonesische Gesellschaft (DIG) Köln, penyelenggara acara, menambahkan, “Karya-karya yang ditulis oleh Pramoedya masih sangat relevan hingga sekarang, karena mengangkat begitu banyak sisi kemanusiaan yang dituangkan lewat tulisan.” Ia menegaskan bahwa karya Pramoedya bukan sekadar sastra, melainkan refleksi mendalam atas sejarah dan kehidupan bangsa Indonesia. Mertes bahkan pernah mewawancarai Pramoedya secara hati-hati pada 1980-an saat masih bekerja sebagai editor dan pegawai pemerintahan yang melatih produksi televisi.

Perjumpaan Albert Klütsch dengan Pramoedya bermula dari investigasi pelanggaran hak asasi manusia terhadap tahanan politik di Pulau Buru oleh Amnesty International (AI). “Setelah Pramoedya dibebaskan pada tahun 1979, saya berkesempatan bertemu dengannya secara langsung pada 1981,” ujar Albert. Pertemuan itu, lanjutnya, “membuka jalan bagi penerbitan terjemahan karya-karya Pramoedya ke bahasa Jerman.”

Sabine Müller, penerjemah sekaligus pengkaji sastra Indonesia, menegaskan peran penting Pramoedya dalam memperkenalkan sastra Indonesia ke Jerman. “Bumi Manusia diterjemahkan ke bahasa Jerman dengan judul Garten der Menschheit,” katanya. “Ia penulis pertama Indonesia yang bukunya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Tulisan-tulisannya selalu dekat dengan kemanusiaan. Menurut saya, lewat kalimat-kalimatnya, ia bisa menciptakan dunia yang sangat hidup.”

Namun, Isrol Medialegal, seniman mural asal Indonesia yang hadir, menyayangkan bahwa kehadiran Pramoedya di tanah air masih sering terabaikan. “Di Blora sendiri sebagai tanah kelahirannya Pram, masyarakat pun juga banyak yang belum tahu,” ujarnya. Ia bahkan menemukan bahwa saat melukis mural dengan kutipan-kutipan Pramoedya, banyak yang bertanya, ‘Siapa itu Pram?’” Isrol percaya bahwa melalui mural, “orang mendapat pengetahuan dan berlangsung percakapan atau diskusi informal dengan seniman, mengapa karya-karya Pram itu penting.”

Martina Heinschke, pegiat literatur yang menjadi pembicara kunci, menyoroti bahwa buku-buku Pramoedya adalah “refleksi mendalam mengenai kejadian-kejadian sejarah di Indonesia.” Namun, ia menggarisbawahi ironi pendidikan di Indonesia saat ini: “Di Indonesia, ketertarikan terhadap sejarah agak kurang. Chairil Anwar mungkin masih dikenal, tapi pada umumnya para pelajar hanya tahu nama penulis dan judul buku, tanpa membaca untuk mendiskusikannya.” Berbeda dengan Jerman, di mana anak-anak sekolah kini diminta mendiskusikan tidak hanya karya sastrawan Jerman, tetapi juga buku-buku dari para penulis asing.

Diskusi dalam acara literatur “Die Feder ist stärker als das Schwert” kemudian mengalir pada sosok-sosok penting lainnya dalam sastra Indonesia, yakni Sutan Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, dan Sitor Situmorang. Keempatnya menjadi pilar penting dalam membangun khazanah sastra Indonesia di tengah pergolakan politik.

Pada tahun 1933, Sutan Takdir Alisjahbana mendirikan dan menerbitkan majalah Poedjangga Baroe bersama Amir Hamzah dan Armijn Pane. Ia menampilkan beberapa tulisan berorientasi pembaruan ala Barat, sebuah pemikiran yang menjadi kontroversial karena dianggap elitis dan jauh dari akar budaya tradisional.

Sementara Mochtar Lubis, dalam karya-karyanya seperti Senja di Jakarta dan Harimau! Harimau!, menolak ideologi yang mengekang kebebasan berpikir. Karya-karyanya bukan hanya kritik sosial, tapi juga peringatan ideologis agar sebuah bangsa tidak terjebak dalam siklus penindasan dan ketidakadilan. Dia sempat dipenjara pada masa Orde Lama di bawah Presiden Sukarno dan mengalami tekanan serta penahanan selama Orde Baru karena keberaniannya mempertahankan kebebasan pers dan melawan sensor.

Pada periode 1950–1965, terjadi pertentangan dalam dunia kebudayaan Indonesia antara Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan penandatangan Manifes Kebudayaan (Manikebu). LEKRA mendorong politik kebudayaan revolusioner, yakni gagasan bahwa seniman dan sastrawan harus berpihak kepada rakyat dan cita-cita revolusi sosial, menjadikan seni sebagai alat perjuangan kelas. Di sisi lain, Manikebu menolak gagasan ini, menyatakan seniman harus memiliki kebebasan moral dan intelektual, serta menolak subordinasi sastra terhadap ideologi politik.

Baik Sitor Situmorang maupun Pramoedya Ananta Toer memiliki kedekatan dengan LEKRA. Setelah peristiwa G30S tahun 1965 dan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), Sitor ditangkap oleh rezim Orde Baru karena kedekatannya dengan LEKRA dan posisi ideologis kirinya. Ia dipenjara tanpa pengadilan. Sedangkan Pramoedya dipenjara dan dibuang ke Pulau Buru belasan tahun. Selama di penjara, dia tetap menulis dan menghasilkan karya-karya besar, termasuk Tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Meski banyak karyanya dibungkam di dalam negeri, Pramoedya Ananta Toer justru mendapat pengakuan luas di dunia internasional. Ia menerima Ramon Magsaysay Award (1995), Freedom to Write Award dari PEN American Center (1988), gelar Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres dari Prancis (1999), dan Fukuoka Asian Culture Prize dari Jepang (2000). Ironisnya, di Indonesia sendiri, ia tidak pernah menerima penghargaan negara secara resmi. Pada perayaan 100 tahun Pramoedya pada 2025, karya-karyanya diperingati lewat mural, diskusi, dan pameran di berbagai kota.

Secara umum, acara literatur di Kota Köln ini bukan sekadar peringatan sastra Indonesia, tetapi juga membuka ruang bagi dialog kontemporer tentang makna sastra, kemanusiaan, dan kebebasan berekspresi. Dalam era di mana pena benar-benar masih lebih kuat dari pedang, warisan para sastrawan Indonesia terus menginspirasi perjalanan Indonesia dan dunia. Sabine Müller mengingatkan, hingga kini buku yang diterjemahkan ke bahasa Jerman masih terbatas, padahal Indonesia pernah menjadi tamu kehormatan pameran buku internasional Frankfurter Buchmesse tahun 2015.

Leo Rolly Carnando dan Bagas Maulana saat bertanding di lapangan bulu tangkis Taipei Open 2026
Berita

Ringkasan Berita: Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja menjadi harapan terakhir Indonesia di babak perempat final Taipei Open 2026, Jumat (31/7/2026) Leo/Daniel akan menghadapi wakil tuan rumah Chen Bo-Lin/Lin Yu-Sian Sedangkan Rehan/Gloria dijadwalkan melawan pasangan Thailand Supak Jomkoh/Supissara Paewsampran TRIBUNNEWS.COM – Perhelatan Taipei Open 2026 sudah memasuki babak perempat final…

Pebulu tangkis Malaysia Lee Zii Jia saat bertanding di lapangan bulu tangkis Taipei Open 2026.
Berita

Ringkasan Berita: Lee Zii Jia kalah dari Lin Chun Yi dalam pertarungan tiga gim di babak 16 besar Lee sempat bangkit dan merebut gim kedua dengan skor telak 21-11 Meski tersingkir, performa Lee menunjukkan progres positif dalam upaya kembali ke level terbaik TRIBUNNEWS.COM – Lee Zii Jia harus mengakhiri perjuangannya di babak 16 besar Taipei Open 2026 setelah nyaris menciptakan comeback saat menghadapi wakil tuan rumah sekaligus juara All…

Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin saat bertanding di lapangan bulu tangkis Taipei Open 2026
Berita

Ringkasan Berita: Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kembali ke jalur kemenangan setelah lolos ke perempat final Taipei Open 2026 Leo/Daniel mengalahkan wakil Jepang Haruki Kawabe/Kenta Matsukawa di babak 16 besar dengan skor 21-12, 14-21, 21-18, Kamis (30/7/2026) Kemenangan ini menjadi momentum kebangkitan Leo/Daniel setelah sebelumnya mengalami hasil kurang memuaskan usai menjuarai Thailand Open 2026 TRIBUNNEWS.COM – Ganda putra Indonesia, Leo…