News

Wapres AS Vance Tuding Pejabat Israel Sengaja Perpanjang Konflik Iran

14
×

Wapres AS Vance Tuding Pejabat Israel Sengaja Perpanjang Konflik Iran

Sebarkan artikel ini
Wakil Presiden AS JD Vance saat memberikan pernyataan dalam siniar bersama Joe Rogan mengenai konflik Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance menuding sejumlah pejabat Israel berupaya memperpanjang konflik dengan Iran melalui manipulasi opini publik.

Fenesia – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan adanya upaya sistematis dari sejumlah pejabat Israel untuk memanipulasi opini publik di Amerika Serikat demi memperpanjang konflik militer dengan Iran tanpa batas waktu pada Kamis (16/7/2026).

Dilansir dari Antara, Vance menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah siniar bersama Joe Rogan terkait dinamika geopolitik yang melibatkan kedua negara tersebut.

“Ada segelintir orang di sistem pemerintahan Israel yang kami yakini tanpa sedikit pun keraguan sedang memanipulasi dan berusaha mengubah opini publik Amerika agar perang dengan Iran terus berlanjut tanpa batas waktu,” kata Vance.

Ia menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tetap berkomitmen meluncurkan kampanye militer terhadap Iran secara independen karena meyakini Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Dikutip dari Al-Monitor, laporan intelijen menunjukkan Israel mencemaskan potensi memudarnya tekad pemerintahan Trump dalam melenyapkan program nuklir Iran.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah pergeseran fokus strategis Amerika Serikat yang kini lebih memprioritaskan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Militer Amerika Serikat melalui Pusat Komando AS (CENTCOM) telah meluncurkan serangkaian serangan ke wilayah Iran sejak tanggal 8 Juli sebagai respons atas gangguan terhadap kapal komersial.

Pasukan Iran memberikan balasan dengan menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran secara resmi telah mengumumkan penutupan operasional di Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap intervensi militer yang dilakukan Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil peran sebagai penjaga utama di Selat Hormuz.

Kebijakan tersebut mencakup penerapan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran guna membatasi pergerakan logistik negara tersebut.

Ketegangan di kawasan ini terus meningkat seiring dengan eskalasi aksi saling serang yang melibatkan aset militer dari kedua negara besar tersebut.

Pihak Teheran mendeskripsikan situasi saat ini sebagai sebuah perang eksistensial bagi kedaulatan negara mereka di tengah tekanan internasional.

Analisis keamanan regional mencatat bahwa stabilitas pasokan energi global kini terancam akibat penutupan jalur perairan strategis tersebut oleh otoritas Iran.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda deeskalasi dari pihak Washington maupun Teheran terkait konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.