Technology

Universitas Jember Ciptakan SmartBLM, Cegah Server Padam Lebih Dini

179
×

Universitas Jember Ciptakan SmartBLM, Cegah Server Padam Lebih Dini

Sebarkan artikel ini
44d97fafd7fbf91acbeb6d9c153313ac.jpg
44d97fafd7fbf91acbeb6d9c153313ac.jpg

Jember – Unit Penunjang Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPA TIK) Universitas Jember (Unej) berhasil menciptakan SmartBLM (Smart BBM Level Monitoring), sebuah sistem berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau level bahan bakar genset secara waktu nyata. Inovasi ini memungkinkan petugas mengetahui kapasitas bahan bakar dari jarak jauh dan menerima notifikasi otomatis melalui aplikasi Telegram saat volume BBM menurun.

Sistem cerdas ini dikembangkan oleh tim Divisi Infrastruktur Jaringan dan Keamanan Informasi UPA TIK Unej sebagai solusi untuk mencegah gangguan operasional akibat pemadaman listrik. SmartBLM juga mendukung efisiensi kerja dan keamanan infrastruktur teknologi di lingkungan kampus.

Wakil Koordinator Kelompok Kerja Tata Usaha UPA TIK Unej, Rochmad Haryanto, menjelaskan bahwa sebelum adanya sistem ini, petugas teknisi maupun satpam harus rutin mendatangi lokasi genset untuk mengecek tangki solar secara manual. “Kadang dilakukan berkali-kali, terutama kalau libur panjang atau malam hari,” kata Rochmad dalam keterangan resmi pada Sabtu, 18 Oktober 2025.

Ide SmartBLM muncul dari kebutuhan tersebut, terinspirasi dari indikator bahan bakar pada mobil. Awalnya, proyek ini merupakan pengembangan dari sistem pemantauan suhu dan kelembapan ruang server. Tim kemudian menyempurnakannya dengan beralih ke mikrokontroler ESP32 yang lebih hemat energi dan terjangkau, menggunakan sensor ultrasonik untuk mengukur tinggi permukaan solar. Data tersebut kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk persentase volume bahan bakar serta estimasi liter.

Ketika volume BBM turun hingga batas 30-40 persen, sistem secara otomatis mengirimkan peringatan melalui aplikasi Telegram agar petugas segera melakukan pengisian ulang. Meski berukuran mungil seukuran kotak kecil, SmartBLM dilengkapi dengan mini UPS yang menjamin alat tetap aktif dan memantau bahan bakar meski listrik padam. Seluruh proses pengembangan, mulai dari ide hingga integrasi, diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu.

Dalam pengembangannya, tim menghadapi tantangan teknis, terutama dalam kalibrasi sensor ultrasonik untuk akurasi pembacaan. “Sensor ultrasonik itu sensitif. Kalau posisinya miring sedikit saja, pembacaannya bisa meleset,” kenang Rochmad. Ke depan, tim berencana menambahkan modul GSM agar alat bisa bekerja tanpa koneksi Wi-Fi, serta memanfaatkan energi surya untuk kemandirian sistem. SmartBLM tidak hanya bermanfaat bagi kampus, tetapi juga diharapkan menjadi inspirasi bagi instansi lain.