BeritaPolitik

Triyana Ungkap Kekerasan Negara Berakar Sejak Era Kolonial

147
×

Triyana Ungkap Kekerasan Negara Berakar Sejak Era Kolonial

Sebarkan artikel ini
bonnie-triyana:-fondasi-kekerasan-dinormalisasi-negara-sejak-masa-penjajahan
bonnie triyana: fondasi kekerasan dinormalisasi negara sejak masa penjajahan

Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, menyoroti akar kekerasan negara yang berawal dari era kolonial.

Hal ini disampaikan saat peluncuran buku ‘Infrastruktur Impunitas’ karya Elizabeth F. Drexler di Komunitas Utan Kayu, Sabtu (24/1/2026).

Menurut Bonnie, praktik kekerasan yang dinormalisasi negara sudah ada sejak masa penjajahan.

“Kita harus melihat ke masa kolonial karena bagaimanapun masa kolonial ini satu fondasi yang penting. Bagaimana negara kolonial menyelesaikan persoalan-persoalan dengan cara kekerasan,” ujarnya.

Bonnie mencontohkan pemberontakan PKI 1926, di mana ribuan orang dibuang ke Boven Digul tanpa pengadilan.

“Hak untuk membuang itu sudah ada sejak 1917, disebut Ex Orbitante Rechten. Hak bagi gubernur jenderal untuk mengusir siapapun yang dianggap berbahaya,” jelasnya.

Pola serupa, kata Bonnie, juga terjadi di era Orde Baru, seperti pengasingan ke Pulau Buru.

“Kalau di rezim Hitler Nazi bikin kamp konsentrasi, praktik kolonial juga. Orde Baru juga bikin Pulau Buru. Fondasinya itu harus kita lihat ke zaman kolonial,” tegasnya.

Bonnie juga menyoroti bagaimana impunitas membuat kekerasan menjadi hal yang wajar, bahkan di institusi pendidikan.

“Contoh guru memukul murid atau sebaliknya. Kekerasan itu sudah terinternalisasi, jadi kebiasaan. Ketika dipermasalahkan, responsnya, ‘dulu juga begitu’. Poinnya adalah bagaimana kita menghentikan rantai kekerasan ini,” katanya.

Menanggapi buku Beth, Bonnie sepakat bahwa upaya mencari keadilan seringkali terbentur penyangkalan negara.

Bonnie juga mengusulkan agar sastra menjadi pelajaran wajib dalam Revisi UU Sisdiknas.

“Kami dari Fraksi PDI Perjuangan mengawal dua pelajaran wajib: sejarah dan sastra. Karena angka literasi kita rendah. Salah satu instrumen mendongkrak literasi adalah dengan menjadikan sastra pelajaran wajib,” pungkasnya.

Leo Rolly Carnando dan Bagas Maulana saat bertanding di lapangan bulu tangkis Taipei Open 2026
Berita

Ringkasan Berita: Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja menjadi harapan terakhir Indonesia di babak perempat final Taipei Open 2026, Jumat (31/7/2026) Leo/Daniel akan menghadapi wakil tuan rumah Chen Bo-Lin/Lin Yu-Sian Sedangkan Rehan/Gloria dijadwalkan melawan pasangan Thailand Supak Jomkoh/Supissara Paewsampran TRIBUNNEWS.COM – Perhelatan Taipei Open 2026 sudah memasuki babak perempat final…

Pebulu tangkis Malaysia Lee Zii Jia saat bertanding di lapangan bulu tangkis Taipei Open 2026.
Berita

Ringkasan Berita: Lee Zii Jia kalah dari Lin Chun Yi dalam pertarungan tiga gim di babak 16 besar Lee sempat bangkit dan merebut gim kedua dengan skor telak 21-11 Meski tersingkir, performa Lee menunjukkan progres positif dalam upaya kembali ke level terbaik TRIBUNNEWS.COM – Lee Zii Jia harus mengakhiri perjuangannya di babak 16 besar Taipei Open 2026 setelah nyaris menciptakan comeback saat menghadapi wakil tuan rumah sekaligus juara All…

Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin saat bertanding di lapangan bulu tangkis Taipei Open 2026
Berita

Ringkasan Berita: Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kembali ke jalur kemenangan setelah lolos ke perempat final Taipei Open 2026 Leo/Daniel mengalahkan wakil Jepang Haruki Kawabe/Kenta Matsukawa di babak 16 besar dengan skor 21-12, 14-21, 21-18, Kamis (30/7/2026) Kemenangan ini menjadi momentum kebangkitan Leo/Daniel setelah sebelumnya mengalami hasil kurang memuaskan usai menjuarai Thailand Open 2026 TRIBUNNEWS.COM – Ganda putra Indonesia, Leo…