Ecozone

Sektor Properti Terdampak Kenaikan BI Rate, Simak Rekomendasi Saham Analis

11
×

Sektor Properti Terdampak Kenaikan BI Rate, Simak Rekomendasi Saham Analis

Sebarkan artikel ini
1cd0976c38f770083b7337654f97a772.jpg
1cd0976c38f770083b7337654f97a772.jpg

Jakarta – Tekanan ekonomi makro yang dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dan pelemahan nilai tukar rupiah membayangi kinerja emiten properti hingga penghujung 2026. Kombinasi suku bunga tinggi dan kurs dolar AS yang bertahan di kisaran Rp 17.600 menjadi tantangan serius bagi industri yang sangat bergantung pada pendanaan eksternal tersebut.

Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, menyatakan bahwa kenaikan BI Rate dan volatilitas rupiah memberikan sentimen negatif ganda. Selain beban bunga yang membengkak, biaya operasional pengembang berpotensi meningkat seiring mahalnya harga bahan bangunan impor.

Analisi Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menambahkan bahwa tekanan margin keuntungan menjadi ancaman nyata jika pengembang tidak melakukan penyesuaian harga jual. Ia menyoroti kerentanan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) terhadap pergerakan kurs karena masih memiliki obligasi dolar AS sebesar US$ 333 juta yang jatuh tempo pada 2028.

Meski demikian, manajemen PWON dinilai telah melakukan strategi lindung nilai yang agresif. Pada kuartal IV-2025, perusahaan mengalokasikan investasi sebesar Rp 1,85 triliun pada instrumen berbasis dolar untuk memitigasi eksposur liabilitas hingga tersisa sekitar US$ 100 juta.

Berbeda dengan PWON, PT Jababeka Tbk (KIJA) mengambil langkah preventif dengan mengalihkan struktur pendanaan ke mata uang rupiah. Langkah ini diambil melalui perolehan fasilitas pinjaman jangka panjang dari Bank Mandiri dengan tenor 15 tahun guna mengurangi risiko volatilitas akibat fluktuasi mata uang asing.

Di sisi lain, tantangan pendanaan juga dirasakan oleh PT Modernland Realty Tbk yang masih mencatatkan beban bunga utang mencapai Rp 118,68 miliar per Maret 2026, dengan utang obligasi dalam denominasi dolar yang akan jatuh tempo pada 2027.

Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai bahwa perusahaan dengan porsi pendapatan berulang atau recurring income yang besar akan lebih mampu bertahan di tengah kondisi pasar saat ini. Sebaliknya, pengembang yang hanya mengandalkan penjualan residensial untuk segmen menengah bawah diprediksi menghadapi tantangan lebih berat.

Kendati dibayangi tekanan ekonomi, sektor properti masih memiliki katalis positif dari perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) hingga 2027 serta akselerasi program pembangunan 3 juta rumah. Pelaku pasar disarankan mencermati emiten yang memiliki kesehatan keuangan terjaga.

Terkait rekomendasi investasi, Maybank Sekuritas memberikan peringkat beli untuk saham BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 1.050, Rp 1.150, Rp 580, dan Rp 520. Sementara itu, Kiwoom Sekuritas secara khusus menetapkan target harga untuk PWON di level Rp 326 per saham.

159b4b46f901e7419491e41d3bd9f2d4.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah, melanjutkan pelemahan selama tujuh hari berturut-turut. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG melemah 0,81% atau terpangkas 52,17 poin ke level 6.318,5 pada penutupan perdagangan, Rabu (20/5/2026). Sepanjang perdagangan IHSG bergerak di level terendah 6.215 dan level tertinggi 6.459. Baca Juga: IHSG Anjlok 6 Hari Beruntun, Cermati Fenesia…

ff19ef01327add53edf8af2320f187f0.jpg
Ecozone

Fenesia – NEW YORK. Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (20/5/2026), setelah tekanan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan harga minyak mulai mereda. Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama perang Iran, yang dinilai berpotensi memengaruhi arah inflasi dan suku bunga global. Mengutip Reuters, harga spot emas naik 1,1% ke level US$ 4.531,99 per ons troi pada pukul…

ff5c745094304f1f8732a03071131452.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Tekanan yang dihadapi emiten-emiten pertambangan mineral dan batubara (minerba) seolah tak kunjung berhenti. Di saat harga sejumlah komoditas utama tambang berada dalam tren positif, emiten di sektor ini justru diterpa oleh sentimen ketidakpastian regulasi. Baru-baru ini, pemerintah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ekspor baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk memperkuat tata kelola komoditas…