Ecozone

Geliat Saham ADRO, ADMR, dan AADI Usai Ekspor Perdana Smelter

16
×

Geliat Saham ADRO, ADMR, dan AADI Usai Ekspor Perdana Smelter

Sebarkan artikel ini
Pekerja di fasilitas smelter aluminium milik PT Kalimantan Aluminium Industry sedang memproses produksi logam primer.
PT Kalimantan Aluminium Industry memulai ekspor perdana produk smelter aluminium ke Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Jakarta – Saham emiten di bawah naungan konglomerat Garibaldi Thohir mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu (22/7/2026) menyusul keberhasilan ekspor perdana produk smelter aluminium ke pasar internasional.

Dilansir dari Reuters, anak usaha PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), yaitu PT Kalimantan Aluminium Industry, telah memulai pengiriman komoditas aluminium primer ke Amerika Serikat dan Korea Selatan sejak Juni 2026.

Data dari platform perdagangan komoditas Export Genius menunjukkan bahwa volume ekspor yang dikirimkan mencapai 31.494 ton ke Amerika Serikat dan 3.569 ton ke Korea Selatan.

Kinerja positif ini mendorong saham ADRO naik 1,18% ke level Rp 2.570 per lembar dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 74,02 triliun.

Tren kenaikan harga saham juga dialami oleh entitas anak usaha lainnya, yakni PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), yang tumbuh 1,62% ke posisi Rp 1.570 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 64,19 triliun.

Saham ADMR mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,03% dalam satu bulan terakhir dan naik 0,64% secara year to date.

Sementara itu, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang bergerak di sektor batu bara turut menguat 0,83% ke level Rp 9.075 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 70,67 triliun.

Secara historis, saham AADI telah mencatatkan lonjakan sebesar 30,11% secara year to date.

Juru bicara ADRO menyatakan bahwa proyek smelter aluminium perusahaan telah mendapatkan minat yang kuat dari berbagai calon pelanggan potensial di pasar global.

“Perseroan menargetkan penjualan ingot aluminium mencapai hingga 350.000 ton sepanjang tahun 2026, baik untuk pasar domestik maupun ekspor,” kata juru bicara ADRO.

Ekspor perdana ini dilakukan di tengah upaya Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam mencari sumber pasokan aluminium alternatif akibat gangguan pengiriman dari pemasok utama di Timur Tengah.

Gangguan pasokan tersebut dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Situasi tersebut telah mendorong premi aluminium di Amerika Serikat mencapai level tertinggi sepanjang masa pada bulan lalu.

Secara keseluruhan, saham ADRO sendiri telah menguat 14,22% dalam satu bulan terakhir dan melesat 41,99% sejak awal tahun.

Kinerja saham yang membaik ini mencerminkan optimisme investor terhadap diversifikasi bisnis Garibaldi Thohir di sektor hilirisasi aluminium.