Ecozone

Rupiah Tertekan Isu Pengunduran Diri Perry Warjiyo di Tengah Pasar

6
×

Rupiah Tertekan Isu Pengunduran Diri Perry Warjiyo di Tengah Pasar

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor perdagangan keuangan
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.088 per dolar AS di tengah ketidakpastian pasar terkait kepemimpinan Bank Indonesia.

Jakarta – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,39% atau 67 poin ke level Rp 18.070 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa (28/7/2026) akibat sentimen negatif pasar terkait transisi kepemimpinan di Bank Indonesia.

Dilansir dari Katadata, mata uang Garuda melanjutkan tren negatifnya hingga pukul 09.10 WIB dengan terdepresiasi 0,44% atau 79 poin ke posisi Rp 18.088 per dolar AS.

Kondisi ini merupakan kelanjutan dari tren pelemahan pada perdagangan sebelumnya, di mana rupiah ditutup melemah 46 poin atau 0,26% ke level Rp 18.009 per dolar AS.

Ketidakpastian pasar dipicu oleh pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia karena alasan pribadi.

Pelaku pasar merespons negatif transisi kepemimpinan tersebut karena muncul kekhawatiran mengenai stabilitas arah kebijakan moneter dan independensi bank sentral ke depan.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai sentimen negatif investor masih menjadi beban utama bagi pergerakan mata uang domestik.

“Rupiah diperkirakan akan kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen negatif investor merespons pengunduran diri Gubernur BI kemarin yang masih membebani,” kata Lukman.

Dalam proyeksinya, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.100 per dolar AS sepanjang hari ini.

Pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, untuk mengisi kekosongan jabatan sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur.

Sejumlah analis ekonomi menyoroti bahwa pergantian kepemimpinan ini terjadi pada momentum yang sangat sensitif bagi perekonomian nasional.

Saat ini, nilai tukar rupiah masih berada di dekat level terlemahnya sejak awal tahun.

Pasar keuangan domestik kini menanti kepastian mengenai penetapan calon gubernur definitif untuk menggantikan Perry Warjiyo.

Investor juga mencermati apakah kebijakan moneter yang diambil oleh pelaksana tugas akan tetap sejalan dengan upaya stabilisasi nilai tukar yang telah dilakukan sebelumnya.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan tetap tinggi selama belum ada kejelasan mengenai arah kebijakan strategis dari pimpinan baru Bank Indonesia.

Kondisi pasar yang volatil mencerminkan sensitivitas pelaku ekonomi terhadap perubahan struktur kepemimpinan di lembaga otoritas moneter.

Bank Indonesia sendiri hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai tenggat waktu pemilihan gubernur definitif.

Seluruh pihak terkait akan terus memantau perkembangan data ekonomi makro guna mengukur ketahanan rupiah di tengah sentimen politik dan moneter yang sedang berlangsung.