Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga menembus level Rp 17.513 pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Sentimen negatif yang berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah serta rapuhnya fundamental ekonomi domestik menjadi pemicu utama tren negatif mata uang Garuda tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 12.41 WIB, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi kurs rupiah berpotensi terdepresiasi lebih dalam hingga menyentuh angka Rp 17.550 per dolar AS dalam waktu dekat.

Faktor eksternal yang paling dominan saat ini adalah ketegangan di Selat Hormuz. Penolakan Amerika Serikat terhadap proposal perdamaian Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar dinilai pasar sebagai sinyal meningkatnya risiko konflik. Situasi ini memicu penguatan indeks dolar AS secara signifikan sekaligus mendongkrak harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga minyak mentah tersebut memberikan beban tambahan bagi Indonesia sebagai negara importir energi. Biaya transportasi dan logistik yang membengkak akibat lonjakan harga energi diproyeksikan akan semakin menekan stabilitas ekonomi nasional.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 belum mampu menjadi jangkar yang kuat bagi mata uang nasional. Pasalnya, pertumbuhan tersebut masih terlalu bergantung pada konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara kontribusi sektor investasi masih belum optimal.

Selain masalah investasi, pasar tenaga kerja dalam negeri kini tengah dalam kondisi tertekan. Sepanjang Januari hingga April 2026, tercatat sekitar 40.000 pekerja di sektor manufaktur, tekstil, garmen, dan elektronik mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Gelombang PHK ini dikhawatirkan akan terus berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kondisi fundamental ekonomi domestik dinilai semakin rentan mengingat mayoritas angkatan kerja Indonesia, yakni sekitar 87,74 juta orang, masih terserap di sektor informal. Di tengah tekanan tersebut, pelaku pasar kini juga tengah menantikan hasil evaluasi MSCI terkait pasar saham Indonesia, yang turut memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan rupiah jangka pendek.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *