Ecozone

IHSG Melemah 3,53 Persen Menutup Perdagangan di Level 6.723

67
×

IHSG Melemah 3,53 Persen Menutup Perdagangan di Level 6.723

Sebarkan artikel ini
cca4ebe8fd6984ad0e55d9ee16be5ad8.jpg
cca4ebe8fd6984ad0e55d9ee16be5ad8.jpg

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat koreksi signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang periode 11 hingga 13 Mei 2026. Indeks melemah 3,53 persen ke posisi 6.723,32, turun dari level 6.936,39 pada pekan sebelumnya.

Pelemahan indeks utama ini dibarengi dengan penurunan kapitalisasi pasar BEI sebesar 4,68 persen, dari Rp 12.406 triliun menjadi Rp 11.825 triliun. Data BEI juga menunjukkan kontraksi pada seluruh indikator aktivitas perdagangan harian.

Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 0,56 persen menjadi 2,53 juta kali. Sementara itu, nilai transaksi harian anjlok 18,78 persen ke angka Rp 18,82 triliun, dan volume transaksi merosot 22,01 persen menjadi 35,76 miliar lembar saham.

Tekanan pada IHSG diperparah oleh aksi jual investor asing. Pada perdagangan 13 Mei 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 1,531 triliun. Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, aliran modal keluar atau outflow investor asing telah mencapai Rp 40,823 triliun.

Gejolak pasar pekan ini dipicu oleh pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dirilis pada Rabu, 13 Mei 2026. Dalam penyesuaian tersebut, enam saham Indonesia didepak dari Global Standard Index, sementara 13 saham dihapus dan satu saham ditambahkan ke dalam Global Small Cap Index.

Menanggapi kondisi tersebut, otoritas pasar modal yang terdiri dari BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan perdagangan domestik tetap terkendali. Regulator menegaskan tidak ada indikasi panic selling di pasar.

Pejabat sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa penyesuaian portofolio oleh investor global ini sebenarnya telah diantisipasi sebelumnya. Pihaknya memandang pengumuman MSCI sebagai langkah positif yang justru dapat mengurangi ketidakpastian pasar di tengah volatilitas global, seperti gejolak geopolitik dan fluktuasi harga komoditas.

Menurut Jeffrey, koreksi harga yang terjadi justru membuka peluang investasi baru karena valuasi saham domestik kini menjadi lebih atraktif dibandingkan awal tahun. Kepastian dari MSCI diharapkan menjadi landasan bagi pelaku pasar dan emiten untuk memperkuat pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.