Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan upaya pemulihan tipis pada perdagangan Rabu (13/5/2026) pagi, setelah sempat terpuruk ke level Rp 17.529 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari sebelumnya. Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot menguat 0,08% ke posisi Rp 17.515 per dolar AS, sementara indeks dolar AS (DXY) terpantau turun tipis 0,03% ke level 98,27.
Meski menguat tipis, tekanan terhadap mata uang Garuda masih cukup kuat. Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menilai pelemahan rupiah belakangan ini dipicu oleh tingginya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, serta ketidakpastian di Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong investor untuk beralih ke aset aman atau safe haven berbasis dolar AS.
Faktor Eksternal Dominasi Tekanan
Brahmantya menjelaskan bahwa penguatan dolar AS secara global menjadi pemicu utama depresiasi mata uang di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Selama konflik di Timur Tengah berlanjut dan harga energi tetap tinggi, indeks dolar AS diprediksi masih akan bergerak di kisaran 98 hingga 102 pada semester I-2026.
Sentimen pasar saat ini juga tertuju pada rilis data inflasi AS yang akan menjadi acuan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Jika inflasi AS tetap tinggi, The Fed berpeluang mempertahankan suku bunga di level tinggi, yang secara langsung akan memperkuat posisi dolar AS.
Kerentanan Domestik
Selain faktor eksternal, pelaku pasar mulai mencermati fundamental domestik yang membuat rupiah menjadi lebih rentan. Beberapa poin utama yang disorot meliputi kondisi cadangan devisa, kebutuhan impor energi, serta sensitivitas pasar terhadap arus keluar modal asing atau capital outflow.
Meski demikian, terdapat potensi pergeseran minat investor ke aset safe haven lain seperti yen Jepang. Selain statusnya sebagai aset lindung nilai, pasar mulai mengantisipasi kebijakan yang lebih hawkish dari Bank of Japan. Di sisi lain, koordinasi antara otoritas moneter Jepang dan AS dalam menjaga stabilitas mata uang juga terus dipantau sebagai sentimen yang dapat meredam volatilitas pasar di tengah ketidakpastian global.













