Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan tertekan di kisaran Rp 17.680 hingga Rp 17.800 per dolar AS pada perdagangan pekan depan. Tren pelemahan ini berlanjut setelah pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), mata uang Garuda bertengger di level Rp 17.712 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa ketidakpastian kondisi global menjadi pemicu utama fluktuasi ini. Salah satunya adalah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang masih membayangi pasar.
Selain itu, transisi kepemimpinan di Federal Reserve dari Jerome Powell ke Kevin Warsh turut menambah keraguan investor. Kebijakan suku bunga AS kini diprediksi berpotensi naik hingga 50 basis points, alih-alih mengalami penurunan seperti yang diharapkan pasar.
Di sisi lain, Ibrahim menyoroti kebijakan domestik terkait pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Menurutnya, langkah pemerintah dalam memusatkan ekspor komoditas melalui BUMN tersebut memicu kekhawatiran adanya praktik monopoli. Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor derasnya arus modal asing keluar dari pasar Indonesia.
Meski pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61 persen, kondisi tersebut belum mampu memberikan sentimen positif bagi penguatan rupiah. Pemerintah sendiri telah melakukan intervensi dengan menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder senilai Rp 2,2 triliun untuk menahan tekanan lebih lanjut.
Berbeda pandangan dengan pasar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah tidak akan terperosok ke kondisi krisis seperti tahun 1998, meski saat ini nilainya telah melampaui level Rp 16.500 per dolar AS.
Purbaya memprediksi akan ada aliran masuk dolar yang signifikan ke dalam ekonomi Indonesia pada Juni mendatang. Ia pun mengimbau para pelaku pasar valuta asing untuk segera melepas aset dolar mereka.
“Pemain valas sebaiknya segera menjual, kami akan mendorong rupiah ke arah Rp 15.000,” ujar Purbaya dalam acara Jogja Financial Festival.
Pemerintah juga memastikan langkah konkret di pasar obligasi guna menjaga agar yield tidak melonjak terlalu tinggi. Upaya ini dilakukan agar investor asing tidak terpaksa keluar dari pasar domestik akibat kerugian yang membengkak. (Tim Redaksi)







