Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan RT 11/RW 07, Gandaria Utara, telah menginisiasi program inovatif bernama Komling atau Kompos Keliling yang bertujuan mengolah sampah organik rumah tangga secara mandiri sejak Rabu (8/7/2026).
Dilansir dari Katadata.co.id, program ini dijalankan oleh ketua RT setempat, Imam Basori, melalui sistem jemput bola menggunakan gerobak sampah listrik untuk mengumpulkan sisa makanan, sayuran, dan kulit buah langsung dari rumah warga.
Setiap harinya, inisiatif lingkungan ini berhasil mengumpulkan sekitar lima hingga 10 kilogram sampah organik yang kemudian diolah menjadi pupuk menggunakan mesin pencacah berkapasitas 2,5 liter.
Pupuk hasil olahan tersebut dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman yang berada di lingkungan sekitar sebagai bentuk insentif bagi warga yang berpartisipasi.
“Saya juga sudah siapkan tanaman sayur untuk warga sehingga mereka termotivasi untuk memilah sampah,” kata Imam Basori.
Tujuan utama dari penerapan Komling adalah untuk mengurangi volume kiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan memutus mata rantai pembuangan dari tingkat paling bawah.
Langkah ini menjadi krusial mengingat Kementerian Lingkungan Hidup telah menetapkan kebijakan bahwa Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantargebang hanya akan menerima sampah residu mulai Agustus 2026.
Selain pengelolaan sampah organik, program ini berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya klasifikasi limbah rumah tangga.
“Masyarakat hanya tahu kalau sampah itu sama semua dan saat kami berkunjung ternyata mereka mencampur sampah plastik, logam dan kertas,” kata Imam Basori.
Secara umum, sampah dikategorikan ke dalam empat jenis, yakni sampah organik, sampah anorganik berupa logam dan plastik, sampah bahan berbahaya dan beracun (B3), serta sampah residu yang tidak dapat didaur ulang.
Untuk mendukung pengelolaan sampah anorganik, warga setempat juga memanfaatkan mesin Smart Geprek guna memadatkan botol plastik dan kaleng minuman bekas.
Material yang telah dipadatkan tersebut kemudian disetorkan ke bank sampah untuk dikonversi menjadi dana operasional warga.
“Bagi saya selaku Ketua RT, dana ini dari warga, oleh warga dan untuk warga,” kata Imam Basori.
Implementasi teknologi tepat guna dan partisipasi aktif warga dalam pemilahan sampah di Gandaria Utara diharapkan dapat menjadi model pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di wilayah perkotaan.
Sinergi antara pengurus lingkungan dan masyarakat dalam memproses limbah di hulu menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan kapasitas tempat pembuangan sampah di masa depan.







