Surabaya – Pemerintah bergerak cepat merespons keluhan masyarakat terkait dugaan kontaminasi Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertalite di Jawa Timur. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil sampel dari sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk diuji.
Pengujian sampel Pertalite dilakukan di laboratorium oleh Lemigas Kementerian ESDM.
“Lemigas bersama Ditjen Migas akan terus melakukan analisis lanjutan hingga seluruh sampel selesai diperiksa,” kata Koordinator Pengujian Aplikasi Produk Lemigas Kementerian ESDM, Cahyo Setyo Wibowo, Sabtu (1/11/2025).
Cahyo menambahkan, analisis serupa akan dilakukan jika ada laporan dari daerah lain.
Menurutnya, pengujian ini merupakan tindak lanjut laporan masyarakat dan peninjauan lapangan bersama Pertamina Patra Niaga serta Ditjen Migas.
Hasil pengujian akan menjadi dasar klarifikasi teknis mutu Pertalite yang beredar.
“Pemantauan langsung dilakukan bersama-sama dan dilanjutkan dengan contoh atau sampel yang dikirimkan ke Lemigas,” jelas Cahyo.
Sejauh ini, hasil pengujian menunjukkan sampel Pertalite “on specification” atau sesuai standar pemerintah, mengacu pada SK DDN Migas Nomor 486 Tahun 2017.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengapresiasi perhatian publik dan menegaskan komitmen menindaklanjuti laporan kontaminasi BBM.
Pertamina Patra Niaga telah membuka posko pengaduan di sejumlah SPBU dan mengecek hampir 300 titik penyaluran di Jawa Timur.
“Terkait isu kontaminasi yang terjadi pada Pertalite, kami memberikan atensi serius agar tidak menimbulkan keresahan dan kerugian bagi masyarakat,” ujar Mars Ega.
Ia menegaskan, Pertamina dan SPBU wajib mengikuti standar operasional dan prosedur ketat dalam penyaluran BBM untuk menjaga kualitas dan tidak merugikan masyarakat.







