Jakarta – Badan SAR Nasional (Basarnas) menyatakan bangunan pondok pesantren Al Khoziny ambruk akibat kegagalan konstruksi. Insiden ini disebut sebagai “pancake model” karena empat lantai bangunan runtuh dan menumpuk menyerupai panekuk. Beban utama reruntuhan dilaporkan menekan bagian tengah gedung, secara signifikan menghalangi jalur penyelamatan.
Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Bencana (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, menjelaskan bahwa area yang seharusnya menjadi akses masuk tim evakuasi kini rata dengan lantai dasar. Untuk mencapai korban, tim penyelamat saat ini mengandalkan interaksi suara atau penggunaan kamera pencari fleksibel yang dapat dimasukkan melalui celah-celah sempit.
Freezer juga menyoroti bentuk kolom utama bangunan yang menyerupai huruf U, mengindikasikan bahwa konstruksi bangunan tidak sesuai standar. Menurutnya, jika konstruksi baik, bangunan seharusnya patah saat ambruk, bukan melengkung dan elastis seperti yang terjadi pada pondok pesantren ini.
Elastisitas tinggi pada kolom tersebut menunjukkan struktur bangunan tidak mampu menahan beban secara keseluruhan. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya banyak celah sempit atau void, tempat para korban diduga terjebak di dalamnya.
Secara terpisah, pakar konstruksi bangunan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mudji Irmawan, menilai bahwa pembangunan pondok pesantren Al Khoziny tidak memperhatikan konsep konstruksi yang benar. Ia menyoroti pelaksanaan pembangunan yang mengabaikan sambungan antara elemen struktur.
Mudji menjelaskan, sambungan antara elemen struktur, seperti balok dengan balok serta balok dengan kolom, sangat penting untuk diperhatikan pada bangunan lebih dari satu lantai agar konstruksinya kokoh dan kompak. Menurutnya, kondisi sambungan antar-elemen struktur yang buruk membuat Pondok Pesantren Al Khoziny menjadi tidak stabil.
Akibatnya, dengan adanya tambahan beban pembangunan di lantai tiga dan empat serta goyangan dinamis, struktur bangunan menjadi kolaps.
Dia juga menyoroti kegiatan salat Asar berjamaah yang dilakukan oleh ratusan santri di lantai satu, bersamaan dengan pengecoran di lantai empat pada Rabu, 1 Oktober 2025. Situasi ini menyebabkan beban bangunan bertambah secara signifikan.
Selain itu, getaran-getaran yang terjadi selama pekerjaan berlangsung turut menekan konstruksi bangunan, yang pada akhirnya menyebabkan ambruk.
Mudji menambahkan, bangunan seluas 800 meter persegi itu tidak terpengaruh oleh keberadaan rel kereta api di dekatnya. Jarak antara rel dan bangunan yang mencapai 300 meter dianggap terlalu jauh untuk memberikan pengaruh getaran yang signifikan.







