Berita

Pakar UGM Ungkap Gas Hidrogen Pemicu Kebakaran Misterius di Sleman

15
×

Pakar UGM Ungkap Gas Hidrogen Pemicu Kebakaran Misterius di Sleman

Sebarkan artikel ini
pakar-ungkap-bahaya-hidrogen-yang-diduga-picu-api-di-rumah-fia
pakar ungkap bahaya hidrogen yang diduga picu api di rumah fia

Yogyakarta – Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap potensi bahaya gas hidrogen (H2) yang diduga menjadi pemicu fenomena kebakaran berulang di kediaman Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tim pakar multidisiplin UGM menyimpulkan bahwa munculnya api berkaitan erat dengan keberadaan gas hidrogen di lokasi tersebut. Gas ini diduga kuat bersumber dari proses fermentasi limbah organik hasil pemotongan ayam di rumah Fia.

Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM yang tergabung dalam PKPE, Sarju Winardi, mengatakan bahwa tingkat bahaya dari gas hidrogen tersebut sangat bergantung pada volumenya. Hal itu ia sampaikan saat ditemui di Kantor Kecamatan Seyegan, Sleman, Kamis (4/6).

“Terkait seberapa bahaya [gas hidrogen], ini terkait dengan volume,” kata Sarju.

Menurut Sarju, timnya telah menganalisa bahwa karakteristik gas hidrogen di rumah Fia keluar secara lambat dengan volume yang tidak besar. Selain itu, titik kemunculan gas bersifat sporadis atau berpindah-pindah.

Dia mengatakan, timnya menduga jumlah gas tersebut tidak besar karena hasil pemboran dangkal sekitar satu meter tidak menunjukkan anomali tinggi.

“Jumlahnya kami duga tidak besar karena hari ini kami lakukan pemboran dangkal sekitar satu meteran, kami masukan alat tidak terdeteksi anomali yang sangat tinggi sekali. Jadi rilisnya pelan dan jumlahnya diperkirakan tidak terlalu besar,” paparnya.

Sarju menambahkan bahwa tipe rembesan gas di rumah tersebut tidak keluar dari permukaan tanah secara kontinyu seperti fenomena Api Abadi Mrapen atau Kayangan Api di Jawa Timur. Gas tersebut terakumulasi dan melayang hingga terjebak pada benda-benda seperti baju atau sofa.

Ia menjelaskan, minimnya kuantitas dan tekanan gas menyulitkan proses pengambilan sampel tanpa menggunakan detektor khusus.

“Kalau gas hidrogen itu dalam jumlah yang banyak, dengan saturasi di udara yang tinggi itu sangat berbahaya. Mudah terbakar dan di kita menimbulkan efek,” ujar Sarju.

Menurutnya, bahaya tersebut muncul ketika gas menempel pada benda tertentu dan bertemu dengan pemicu seperti listrik statis atau gesekan.

“Tapi kalau sekarang bahayanya adalah ketika dia nempel dalam jumlah tertentu, ada pemicu, ya listrik statis, bahkan gesekan orang, atau teori kami (di lokasi) ada gas fosfin ya, itu bisa memicu (api). Jadi kalau ditanya bahaya adalah ketika ada barang yang mudah terbakar,” sambungnya.

Tim PKPE berasumsi bahwa gas hidrogen sejauh ini hanya terlokalisasi di area rumah Fia dan belum ditemukan indikasi di tempat lain. Terkait temuan triplek terbakar di bangunan berbeda, tim telah memastikan benda tersebut dipindahkan dari rumah Fia sehingga masih menyimpan sisa gas.

Sarju menegaskan, sejauh ini timnya belum menemukan potensi bahaya yang meluas sehingga penanganan difokuskan secara lokal.

“Jadi potensi bahaya sejauh ini kami belum menemukan adanya potensi yang bisa lebih luas. Seberapa bahaya, bahayanya kalau ada barang yang mudah terbakar. Seberapa luas bahayanya, sejauh ini kami belum menemukan potensi itu. Jadi kami fokus penanganan lokal di rumah itu,” ujar dia.

Sebagai informasi, fenomena teror api misterius di kediaman Fia telah berlangsung hampir dua pekan dengan 97 kali peristiwa munculnya api. Dalam dua hari terakhir, api bahkan mulai menyebar ke area ruko tempat keluarga Fia mengungsi, dengan total pemetaan lebih dari 65 titik api sejak awal kejadian.