BeritaInternasionalPolitik

Megawati Berduka, Kirim Surat, Kecam Agresi AS-Israel atas Khamenei

98
×

Megawati Berduka, Kirim Surat, Kecam Agresi AS-Israel atas Khamenei

Sebarkan artikel ini
megawati-kirim-surat-duka-atas-kematian-khamenei,-kecam-as-israel
megawati kirim surat duka atas kematian khamenei, kecam as israel

Jakarta – Megawati Soekarnoputri menyampaikan duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Surat duka dari Megawati dikirimkan melalui pengurus pusat PDIP.

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, memimpin langsung penyerahan surat tersebut.

Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi, menerima surat itu di Kedubes Iran, Jakarta, Selasa (3/3).

Megawati mengaku terkejut dan berbelasungkawa atas gugurnya Khamenei.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar Bung Karno serta mewakili bangsa dan rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian, keadilan dan kedaulatan negara merdeka, saya menyampaikan simpati dan solidaritas kami yang tulus bagi keluarga, pemerintah, dan seluruh rakyat Iran,” tulis Megawati dalam suratnya.

Megawati menyebut Khamenei memiliki kedekatan batin dengan perjuangan Sukarno.

Khamenei disebut mengagumi Bung Karno sejak muda.

Ia membaca pemikirannya dan menjadikan Pancasila serta Dasa Sila Bandung sebagai referensi.

Megawati juga menyinggung ikatan historis antara Indonesia dan Iran.

Keduanya memiliki kesamaan nasib sebagai bangsa yang menentang penjajahan.

“Dalam kepemimpinan beliau kami menangkap gema semangat anti kolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan tekad untuk menolak segala bentuk dominasi dan ketidakadilan global,” ujarnya.

Megawati mengenang kunjungannya ke Teheran pada 2004.

Saat itu, ia menghadiri Konferensi D-8 dan bertemu Ayatullah Ali Khamenei.

“Saya merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta kharisma kepemimpinan yang terpancar dalam diri beliau,” kenangnya.

Megawati menegaskan bahwa Indonesia menolak agresi militer AS dan Israel.

Ia menilai tindakan itu sepihak dan melanggar kedaulatan negara.

“Kami meyakini prinsip yang kami pegang sejak era Bung Karno hingga hari ini, yakni bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalan dialog, perundingan yang adil, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan dan penggunaan kekuatan bersenjata,” pungkasnya.