Life

Komunitas Dorong Peningkatan Keahlian Bahasa Jepang Secara Efektif

124
×

Komunitas Dorong Peningkatan Keahlian Bahasa Jepang Secara Efektif

Sebarkan artikel ini
48cd019f0e86c8da39c62552310da3c1.jpg
48cd019f0e86c8da39c62552310da3c1.jpg

Jakarta – Berawal dari kesulitan belajar bahasa Jepang secara mandiri hingga sukses bekerja di negeri Sakura, Royyuda Agusto Ompusunggu, atau akrab disapa Sansan, kini mendirikan komunitas belajar bahasa Jepang daring bernama Nande Nihon. Komunitas ini hadir untuk membuka akses belajar bahasa tanpa biaya bagi generasi muda Indonesia, sekaligus membuka peluang kerja di Jepang yang tengah membutuhkan banyak tenaga.

Pria 24 tahun itu mengenang bagaimana ia awalnya kesulitan mempelajari bahasa dari negeri Sakura itu dengan menonton film Doraemon. Keterbatasan biaya dan akses menjadi tantangan utama, namun hal itu tak memadamkan niatnya untuk menguasai bahasa yang memiliki jenis huruf Hiragana, Katakana, dan Kanji tersebut secara otodidak.

Kegigihan Sansan membuahkan hasil. Ia berhasil meraih beasiswa Nihonggo Gakkou untuk melanjutkan studi di Jepang, dan setelah menyelesaikan sekolahnya, ia memutuskan untuk bekerja di sana. Pengalaman sukses belajar bahasa Jepang secara mandiri ini menarik perhatian, membuatnya tak jarang menjadi mentor bagi teman-teman yang juga menghadapi kendala biaya belajar bahasa.

Motivasi pribadi inilah yang menjadi dasar gerakan komunitas Nande Nihon. “Saya ingin ilmu yang saya pelajari di Jepang bisa berguna bagi teman-teman di Indonesia. Anak-anak muda harus punya akses belajar tanpa terbebani biaya,” kata Sansan. Ia melihat peluang besar bagi anak muda Indonesia untuk bekerja di Jepang yang banyak membutuhkan tenaga kerja dari luar negeri karena kekurangan pekerja. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sulitnya mencari kerja di Indonesia yang seringkali terkendala kualifikasi, membuat banyak yang akhirnya menjadi pekerja lepas atau menganggur. Untuk meraih kesempatan tersebut, kemampuan bahasa Jepang dan sertifikasi keahlian sesuai bidang menjadi kunci utama.

Nande Nihon menawarkan pelajaran bahasa Jepang secara daring. Sansan dan para relawan pengajar, yang kebanyakan juga bekerja, harus menyesuaikan waktu dan prioritas masing-masing untuk menyiapkan materi. Komunitas ini siap membuka pendaftaran Batch 4 pada Oktober 2025, didukung oleh 22 relawan pengajar yang bekerja secara sukarela.

Program belajar difokuskan pada komunikasi sehari-hari. “Bagi saya, modeling adalah passion, tapi berbagi ilmu adalah panggilan hati. Saya ingin anak-anak muda punya akses belajar tanpa harus memikirkan biaya,” ujar Sansan, yang menyebut komunitasnya diminati masyarakat usia produktif 16-40 tahun.

Selain belajar bahasa, para pengajar juga akan berbagi informasi mendalam mengenai kehidupan di Jepang. Harapannya, peserta mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang negara tersebut, mulai dari gaji, budaya kerja, akses transportasi, tempat ibadah, hingga aturan dan keamanan. Tak jarang pula ada timnya yang membuat sesi berbagi atau webinar bersama diaspora Jepang.

“Kami ingin peserta tidak hanya belajar bahasa, tapi juga punya bekal pengetahuan untuk mengambil peluang di luar negeri,” kata co-founder Diva Kyla yang fokus melakukan riset informasi sekolah, beasiswa, dan magang soal Jepang.