London – Dominasi klub Inggris di kompetisi antarklub Eropa musim ini semakin tak terbendung. Aston Villa dan Crystal Palace resmi menyusul Arsenal ke babak final, menjadikan Inggris sebagai kekuatan utama yang menempatkan wakilnya di tiga kompetisi tertinggi Eropa.
Aston Villa memastikan tiket final Liga Europa setelah tampil impresif. Mereka dijadwalkan menantang SC Freiburg di Besiktas Stadyumu, Istanbul, pada 21 Mei mendatang. Sementara itu, Crystal Palace berhasil menembus final Liga Konferensi Europa dan akan menghadapi Rayo Vallecano di Red Bull Arena, Leipzig, pada 28 Mei. Sebelumnya, Arsenal telah lebih dulu mengamankan posisi di final Liga Champions melawan juara bertahan Paris Saint-Germain di Budapest, 30 Mei nanti.
Keberhasilan ini menjadi momen bersejarah bagi Aston Villa yang telah menanti selama 44 tahun untuk kembali berlaga di partai puncak kompetisi Eropa sejak menjuarai European Cup musim 1981-1982. Kapten tim, John McGinn, menegaskan bahwa skuadnya berambisi mencatatkan diri sebagai legenda baru klub melalui trofi Liga Europa.
Di sisi lain, bagi Crystal Palace, ini merupakan pencapaian final pertama sepanjang 120 tahun sejarah berdirinya klub. Pelatih Oliver Glasner bahkan menyambut positif wacana pembangunan patung penghormatan di markas mereka, Selhurst Park, jika timnya sukses merengkuh gelar juara.
Di antara ketiga wakil Inggris tersebut, Aston Villa dianggap memiliki peluang juara paling besar berkat sentuhan pelatih Unai Emery. Pelatih asal Spanyol tersebut memiliki catatan mentereng dengan koleksi empat gelar Liga Europa. Bomber Villa, Ollie Watkins, menyebut rekam jejak Emery menjadi faktor pembeda yang krusial.
“Tidak ada pelatih yang lebih baik untuk laga final seperti ini selain Unai Emery,” ujar Watkins.
Selain prestise gelar, keberhasilan ini membawa keuntungan strategis bagi Premier League. Peluang Inggris untuk mendapatkan slot keenam di Liga Champions musim depan terbuka lebar, dengan catatan Aston Villa menjuarai Liga Europa dan finis di posisi kelima klasemen domestik. Jika skenario ini terwujud, slot performa Eropa (EPS) akan dialihkan ke tim yang menempati posisi keenam liga.
Pencapaian tiga klub Inggris di final kompetisi Eropa musim ini menjadi fenomena istimewa yang mengingatkan publik pada dominasi klub Inggris dua dekade lalu. Dengan kualitas skuad dan pengalaman pelatih yang dimiliki, ketiga klub tersebut kini berdiri di ambang sejarah baru sepak bola Inggris di kancah Eropa.







