Berita

Investigasi Bullying: Siswa SMPN Tangsel Meninggal, Fakta Terungkap

76
×

Investigasi Bullying: Siswa SMPN Tangsel Meninggal, Fakta Terungkap

Sebarkan artikel ini
fa39bef952aa13c0ef4d6e0b331861f8.jpg
fa39bef952aa13c0ef4d6e0b331861f8.jpg

Tangerang Selatan – Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kota Tangerang Selatan berinisial MH, 13 tahun, meninggal dunia pada Minggu, 16 November 2025, setelah sepekan menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Siswa kelas VII tersebut diduga kuat menjadi korban perundungan atau bullying yang dilakukan oleh rekan sekelasnya.

Menurut Rizky Fauzi, sepupu korban, insiden perundungan yang menyebabkan kondisi MH memburuk diduga terjadi pada 20 Oktober 2025. Saat itu, MH dipukul menggunakan bangku besi di bagian kepalanya. Awalnya, MH memilih menutupi kejadian tersebut dari keluarganya. Namun, sehari berselang, ia mulai menceritakan apa yang dialaminya karena kondisinya terus memburuk hingga harus dirawat di High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Fatmawati.

Fauzi menduga, perundungan terhadap sepupunya bukan kali pertama terjadi. MH diduga telah menjadi korban kekerasan sejak masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Korban cenderung menyembunyikan kejadian ini lantaran ibunya sedang dalam kondisi sakit. “Pengakuan korban itu di masa MPLS ternyata sudah dipukul dan ditusuk-tusuk pakai sedotan tangannya. Pelakunya sendiri,” kata Fauzi.

Pihak keluarga telah mengadukan insiden perundungan ini kepada pihak sekolah pada 22 Oktober 2025. Setelah aduan tersebut, sekolah kemudian memfasilitasi mediasi antara keluarga MH dan keluarga terduga pelaku bullying. Dalam mediasi awal, pihak keluarga pelaku menyatakan kesediaan mereka untuk bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan MH.

Namun, seiring memburuknya kondisi kesehatan MH yang memerlukan penanganan medis serius, komitmen pertanggungjawaban dari pihak pelaku justru mengelak. Keluarga korban bahkan disarankan untuk mencari pinjaman uang dari orang-orang terdekat guna menutupi biaya pengobatan.

Dinas Pendidikan dan UPTD PPA Kota Tangerang Selatan bersama pihak sekolah telah mendatangi kediaman korban pada Senin, 10 November 2025. Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) diklaim telah melakukan penanganan terhadap kasus ini. Kepala Dinas Pendidikan Deden Deni menyatakan bahwa telah ada tindak lanjut dan penyelesaian melalui pertemuan kedua orang tua yang disebutnya sudah saling memahami kejadian pada 20 Oktober.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong agar kasus dugaan perundungan yang menimpa anak di Tangerang Selatan ini dapat diproses hukum. Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, di Tangerang, pada Selasa, 11 November 2025, menegaskan pentingnya proses hukum untuk mengungkap duduk perkara dan menemukan penyelesaian yang adil.

Diyah menambahkan, kasus perundungan ini mengandung unsur kekerasan yang mengakibatkan korban mengalami luka fisik serius dan trauma berat. KPAI mendukung penuh langkah aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kasus tersebut secara tegas. “Itu tergantung dari kepolisian yang menentukan, kalau ada bullying dan apakah terjadi (kekerasan), luka-luka kan ada, tidak apa diproses hukum,” pungkasnya.

4fb76b8b4aa755bc7bbd323df2792608.jpg
Berita

Fenesia-JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan rebound atau kembali menguat hingga menyentuh level 8.000 seiring membaiknya fundamental ekonomi nasional dan kinerja perusahaan. Hal itu disampaikan Purbaya menanggapi pergerakan IHSG yang kembali naik setelah sempat berada di kisaran 5.900, Purbaya menilai pergerakan pasar saham pada akhirnya akan ditopang oleh fundamental perusahaan…