Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak pada industri gadget di tanah air, termasuk memengaruhi struktur harga produk Apple.
General Manager Marketing Apple PT MAP Zona Adiperkasa, Farah Fausa Winarsih, mengakui bahwa pihaknya tidak dapat mengendalikan fluktuasi mata uang yang kini menekan harga produk di pasar domestik.
“Jadi kenaikan dolar itu adalah sesuatu yang enggak bisa kita kontrol ya. Maksudnya itu udah out of our hands. Udah pasti akan ada efek ke dalam pricing-nya kita,” ujar Farah di sela peluncuran Macbook Neo di Digimap Pacific Place, Jakarta, Jumat (22/5).
Farah menjelaskan, tekanan kurs tersebut berisiko memicu penyesuaian harga, khususnya pada produk-produk yang sudah beredar di pasar. Sementara itu, untuk produk yang baru masuk, harga dipastikan masih relatif stabil.
“Kalau yang baru masuk sekarang kita harganya masih stay di sini ya. Tapi kalau untuk produk-produk yang eksisting, mungkin akan ada adjustment,” tuturnya.
Menurut Farah, dampak dari pergerakan kurs ini tidak hanya dirasakan oleh produk Apple, melainkan hampir seluruh pelaku industri ritel yang bergantung pada pergerakan dolar AS.
“Ini enggak cuma terjadi di Apple product ya, semua product kena impact karena exchange rate ini. Dengan dolar yang kenaikannya cukup signifikan,” ungkapnya.
Terkait besaran kenaikan harga, Farah menyebutkan pihaknya tidak menetapkan angka pasti karena pergerakan kurs yang sangat dinamis. Pihaknya berupaya melakukan penyesuaian secara berkala agar tetap selaras dengan kondisi pasar.
“Kita selalu berusaha beradaptasi. Bisa jadi tiga sampai empat hari harga berubah, nanti kalau dolar turun kita adjust lagi. Jadi kita selalu coba match dengan perkembangan dolar,” jelasnya.
Meski demikian, Farah menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya menjaga keterjangkauan produk Apple bagi konsumen melalui berbagai strategi pembiayaan, seperti kerja sama perbankan dan layanan paylater.
Selain itu, program trade-in atau tukar tambah juga dihadirkan sebagai solusi bagi konsumen untuk meringankan beban biaya pembelian.
“Dengan trade-in, produk sebelumnya bisa mengurangi harga produk baru. Jadi walaupun dolar naik, dengan promo dan penawaran yang ada, customer masih lebih mudah mendapatkan produk,” tandasnya.







