Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Selasa (23/6/2026) dengan berada di zona merah. Indeks acuan domestik tersebut tercatat terkoreksi 0,25 persen ke level 6.101,33. Pergerakan pasar sempat mengalami volatilitas tinggi dengan menyentuh level terendah di posisi 5.993, sebelum akhirnya mampu bangkit dan ditutup di atas level psikologis 6.100.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini dipicu oleh sentimen negatif dari pasar global. Tekanan jual yang signifikan pada saham-saham sektor teknologi menjadi pemicu utama koreksi indeks di berbagai bursa saham.
Menurut Alrich, tren negatif ini tidak hanya terjadi di pasar domestik. Bursa global secara umum mengalami tekanan serupa, terutama pada sektor teknologi yang sebelumnya sempat mencatatkan penguatan. Ia menyoroti indeks Kospi sebagai contoh bursa yang memimpin pelemahan di kawasan Asia setelah sebelumnya sempat mengalami reli panjang.
Selain sentimen dari Asia, tekanan terhadap pergerakan pasar saham domestik juga diperkuat oleh pelemahan indeks futures di bursa Wall Street. Faktor eksternal tersebut, menurut Alrich, berdampak langsung pada sentimen investor di Indonesia.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan hari yang sama, mata uang Garuda tercatat melemah 0,09 persen ke level Rp17.859 per dolar Amerika Serikat. Tekanan pada nilai tukar ini menjadi katalis negatif tambahan bagi pergerakan IHSG.
Secara sektoral, pelemahan pasar dipimpin oleh sektor teknologi yang mencatatkan koreksi sebesar 1,05 persen. Di sisi lain, sektor kesehatan mampu memberikan perlawanan dengan mencatatkan penguatan sebesar 3,97 persen, yang berfungsi sebagai penopang bagi indeks agar tidak terkoreksi lebih dalam.
Di dalam negeri, pelaku pasar saat ini mengambil posisi wait and see. Investor tengah menanti pengumuman MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan akan dirilis pada 24 Juni 2026.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pengumuman MSCI merupakan sentimen paling krusial bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Pasar saat ini sedang mencermati kejelasan mengenai status freeze pada indeks Indonesia. Ketidakpastian ini muncul setelah adanya penurunan penilaian pada kriteria Information Flow dalam laporan Global Market Accessibility Review dari MSCI.
Nafan menjelaskan, apabila MSCI memutuskan untuk mempertahankan status Emerging Market bagi Indonesia tanpa penurunan ke Frontier Market, maka respons pasar kemungkinan akan terbatas karena kekhawatiran terburuk tidak terealisasi. Namun, ia menambahkan bahwa terdapat potensi sinyal positif jika ada kepastian mengenai pencabutan status freeze, yang dapat mendorong arus masuk dana asing ke pasar domestik.
Menatap perdagangan Rabu (24/6/2026), Alrich memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara 6.000 hingga 6.150. Sementara itu, Nafan memberikan estimasi teknikal yang lebih luas dengan memproyeksikan level support berada di angka 5.972 dan 5.848, sedangkan level resistance berada di kisaran 6.257 dan 6.377.






