Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Pasar saham domestik tercatat terkoreksi sebesar 0,25 persen ke level 6.101,33. Pergerakan indeks sempat mengalami tekanan cukup dalam hingga menyentuh level terendah di angka 5.993 pada sesi intraday, sebelum akhirnya berhasil rebound dan ditutup kembali di atas level psikologis 6.100.
Koreksi ini dipicu oleh sikap pelaku pasar yang cenderung mengambil posisi wait and see. Investor saat ini tengah menanti pengumuman hasil MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan akan dirilis secara resmi pada Rabu, 24 Juni 2026. Keputusan tersebut dinilai krusial karena berpotensi memengaruhi persepsi risiko serta pola aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai tekanan yang terjadi pada IHSG hari ini masih dalam kategori terbatas. Menurutnya, fokus utama pelaku pasar saat ini sepenuhnya tertuju pada hasil tinjauan MSCI. Ia meyakini bahwa selama tidak ada penurunan status yang melampaui ekspektasi pasar, maka koreksi yang terjadi saat ini tidak akan berlangsung dalam jangka panjang.
Reza memproyeksikan IHSG dalam sepekan ke depan akan bergerak dalam rentang support di level 5.930 hingga 6.070, dengan level resistance berada di angka 6.300. Apabila hasil review MSCI sesuai dengan ekspektasi atau bahkan memberikan hasil yang lebih baik, peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan menuju area 6.300 masih terbuka lebar.
Tekanan terhadap indeks pada perdagangan hari ini terutama bersumber dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dan sektor komoditas. Beberapa saham yang mengalami aksi ambil untung atau profit taking di antaranya adalah BBCA, MDKA, PTBA, dan INCO. Aksi ini dilakukan investor sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian keputusan MSCI.
Di sisi lain, laju pelemahan IHSG sempat tertahan oleh pergerakan saham-saham dari kelompok konglomerasi. Beberapa emiten yang berperan sebagai penahan indeks di antaranya adalah TPIA, BUMI, BUVA, dan BRPT.
Menghadapi kondisi pasar saat ini, Reza menyarankan investor untuk tetap mencermati saham-saham sektor perbankan. Pilihan utama jatuh pada saham BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI. Selain karena valuasinya yang dinilai sudah relatif menarik, sektor perbankan merupakan konstituen dengan bobot terbesar, baik dalam indeks MSCI Indonesia maupun IHSG.
Reza menambahkan, jika hasil MSCI memutuskan untuk mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market dan tidak ada kebijakan pembatasan aksesibilitas pasar, saham-saham perbankan akan menjadi destinasi utama arus dana asing. Hal ini didukung oleh likuiditas yang tinggi serta kapitalisasi pasar yang besar.
Selain sektor perbankan, investor juga disarankan untuk memantau saham-saham konglomerasi yang memiliki potensi index play menjelang periode rebalancing indeks berikutnya. Emiten dengan kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, serta peluang peningkatan bobot dalam indeks diprediksi akan mendapatkan perhatian lebih dari pasar apabila sentimen MSCI menunjukkan hasil positif.






