News Feed Indonesia

Hacker Retas Situs Pemerintah Myanmar Terkait Lawan Kudeta

FENESIA – Beberapa situs pemerintah yang dikelola militer dan situs bank sentral Myanmar dikabarkan diretas pada Rabu, 17 Februari 2021.

Sekelompok peretas yang menyebut diri mereka sebagai Hacker Myanmar bertanggung jawab atas peretasan ini.

“Tujuan kami adalah untuk menggulingkan rezim militer. Kami akan berjuang secara daring untuk memusnahkan lembaga inti dan organisasi bisnis yang menopang rezim,” tulis Myanmar Hacker di Facebook.

Dalam unggahan tersebut, Myanmar Hacker juga membagikan tautan blog yang disebut dapat digunakan orang-orang untuk melakukan serangan siber terhadap berbagai lembaga.

“Retas dengan tangan Anda sendiri dan bergabunglah dengan gerakan kami,” kata kelompok tersebut.

Menurut laporan media massa independen, Irrawaddy, situs bank sentral Myanmar, Badan Informasi Angkatan Bersenjata Myanmar Tatmadaw, dan situs Kementerian Perdagangan tidak bisa diakses pada Rabu pagi.

Myanmar Hackers juga meretas situs Direktorat Administrasi Investasi dan Perusahaan Myanmar, Kementerian Bea Cukai, hingga media yang dikelola junta militer seperti Tatmadaw True News Information Team, Myawaddy TV, dan lembaga penyiaran negara Myanmar Radio and Television.

Beberapa media swasta Myanmar juga ikut terkena serangan siber mereka.

Seorang teknisi komputer di Yangon mengatakan peretasan tersebut adalah serangan “denial-of-service“.

“Mereka mengganggu lalu lintas normal dari server yang ditargetkan dengan membanjiri target dengan lalu lintas internet sehingga situs webnya melambat atau bahkan tidak dapat diakses,” ucapnya.

Tak hanya dari dunia internasional, pihak militer juga terus mendapat  tekanan dari dalam negeri setelah melakukan kudeta pada 1 Februari lalu.

Selain peretasan, demonstrasi penentang junta militer juga semakin meluas di berbagai penjuru Myanmar.

Aparat keamanan sempat mengerahkan pasukan hingga kendaraan lapis baja ke sejumlah kota besar seperti Yangon dan Ibu Kota Naypyidaw demi membendung demonstrasi.

Lebih dari 100 demonstran dilaporkan terluka saat bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat militer terjadi di Mandalay.

Menurut laporan kelompok non-profit Kanaung Institute, pasukan tentara yang dibawa dengan enam truk menyerang sekelompok warga yang tengah berdemo dengan memukul panci-panci dan perkakas masak lainnya di Chanmyathazi pada Rabu (17/2) malam.

“Personel militer memang tidak menggunakan peluru atau senapan tetapi mereka tetap menggunakan senjata mematikan,” ungkap Than Myat Soe, Kepala Eksekutif Kanaung Institute.

REKOMENDASI
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.