News

Kapal Pertamina Pride Akhirnya Berlayar Kembali Usai Tertahan Selat Hormuz

16
×

Kapal Pertamina Pride Akhirnya Berlayar Kembali Usai Tertahan Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
4c32a7ca1a785227fe9a0e53f84a4a28.jpg
4c32a7ca1a785227fe9a0e53f84a4a28.jpg

Jakarta, Fenesia.com – Kapal tanker raksasa Pertamina Pride milik PT Pertamina (Persero) akhirnya berhasil keluar dari jebakan geopolitik di Selat Hormuz setelah tertahan selama empat bulan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Data pelacakan kapal MarineTraffic yang diperbarui pada Rabu (8/7) mengonfirmasi bahwa armada tersebut kini telah memasuki perairan Oman.

Kapal tanker yang dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) itu saat ini sedang memacu laju dengan kecepatan sekitar 10 knot.

Tujuan akhir dari pelayaran ini adalah mengantarkan muatan minyak mentah ke Kilang Pertamina Cilacap, Jawa Tengah.

Sebelumnya, kapal ini terperangkap di Teluk Arab sejak awal Maret 2026 pasca-meletusnya ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel.

Keberhasilan ini tercatat sebagai salah satu manuver langka di tengah meningkatnya ancaman keamanan yang membayangi jalur pelayaran internasional paling krusial tersebut.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa Pertamina Pride menjadi salah satu dari segelintir kapal tanker yang sukses meloloskan diri dari kawasan konflik tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Pertamina (Persero) belum memberikan keterangan resmi tambahan mengenai pergerakan terkini kapal tersebut.

Sebelumnya, perusahaan sempat menyatakan bahwa keterlambatan pelayaran disebabkan oleh rumitnya proses perizinan di tengah situasi yang tidak menentu.

“Untuk kapal Pertamina Pride sampai dengan saat ini kami sedang memproses perizinannya. Selat Hormuz juga memanas kembali sehingga pelaksanaan kargo dari Pride masih tertunda,” kata Vice President Corporate Communication Muhammad Baron saat ditemui di Grha Pertamina, Kamis (2/7).

Dia menambahkan bahwa muatan minyak mentah tersebut sangat krusial untuk menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.

“Nanti jika sudah bisa berlayar (dari Selat Hormuz) kapalnya ke Kilang Cilacap,” lanjutnya.

Selain Pertamina Pride, perusahaan sebelumnya juga telah berhasil mengevakuasi kapal tanker Gamsunoro dari wilayah yang sama.

Kapal Gamsunoro dilaporkan sukses melewati titik kritis Selat Hormuz pada 25 Juni lalu setelah menempuh perjalanan selama 16 jam.

Proses keberangkatan Gamsunoro dilakukan setelah perusahaan melakukan penilaian risiko intensif selama satu bulan penuh.

Langkah tersebut melibatkan koordinasi lintas sektoral dengan Kementerian Luar Negeri serta perwakilan RI di Teheran.

“Pemilihan waktu dan rute di Selat Hormuz telah melalui pembahasan dan penilaian risiko yang sangat ketat. Kami mencatat puluhan persyaratan yang harus dipenuhi kapal, mulai dari asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru,” ujar Pjs. Sekretaris Perusahaan PIS Vega Pita.

Meskipun Pertamina Pride kini telah berada di jalur yang lebih aman, dinamika di Selat Hormuz masih menyisakan kekhawatiran bagi sektor energi global.

Beberapa kapal tanker minyak dan LNG lain dilaporkan memilih untuk berbalik arah sebagai langkah antisipasi terhadap serangan yang masih terjadi di sekitar selat.

Keberhasilan Pertamina Pride dalam menembus blokade keamanan ini sekaligus menandai selesainya misi evakuasi aset vital perusahaan dari zona konflik Timur Tengah.