BeritaEcozone

GoPro Hadapi Krisis Keuangan Akibat Penjualan Merosot dan Persaingan Pasar Sengit

15
×

GoPro Hadapi Krisis Keuangan Akibat Penjualan Merosot dan Persaingan Pasar Sengit

Sebarkan artikel ini
babak-belur-dihajar-dji,-gopro-di-ambang-kebangkrutan
babak belur dihajar dji, gopro di ambang kebangkrutan

Jakarta – Produsen kamera aksi ternama asal Amerika Serikat, GoPro, dikabarkan tengah berada di ambang kebangkrutan. Kondisi ini dipicu oleh tren penjualan perusahaan yang terus merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Situasi kritis ini terungkap melalui dokumen terbaru yang diserahkan perusahaan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Dalam formulir 8-K yang dirilis pada 1 Juni, GoPro menyatakan keraguan besar terkait kemampuannya untuk mempertahankan operasional dalam 12 bulan ke depan tanpa adanya suntikan dana segar atau transaksi strategis.

Berdasarkan catatan dalam dokumen SEC tersebut, posisi kas dan setara kas perusahaan saat ini hanya tersisa sekitar US$50 juta atau setara dengan Rp897 miliar dengan kurs Rp17.954 per dolar AS.

“Tanpa memperoleh sumber pendanaan tambahan atau menyelesaikan transaksi strategis, kemampuan perusahaan untuk melanjutkan kelangsungan usahanya akan terdampak secara material dan merugikan,” tulis GoPro dalam dokumen SEC tersebut.

Manajemen GoPro menambahkan, perusahaan berpotensi menempuh langkah pengurangan operasional secara signifikan, restrukturisasi, penghentian operasi, hingga mencari perlindungan hukum di bawah undang-undang kepailitan federal.

Kendati demikian, pihak perusahaan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana spesifik yang diinisiasi untuk mengajukan permohonan kebangkrutan.

Berdasarkan dokumen internal perusahaan, krisis finansial yang mendera GoPro semakin diperparah oleh tekanan industri teknologi global. Produsen kamera aksi ini menghadapi lonjakan biaya perangkat keras memori yang meroket antara 80 persen hingga 110 persen.

Kenaikan harga tersebut dibarengi dengan penurunan pasokan komponen dari para pemasok akibat imbas krisis data AI. Hal ini terjadi karena kapasitas produksi chip global dialihkan secara masif untuk memenuhi permintaan pusat data kecerdasan buatan.

Di sisi lain, dengan harga jual produk yang berada di kisaran US$300 hingga US$500, GoPro merasa kesulitan untuk membebankan kenaikan biaya produksi tersebut kepada konsumen. Masalah ini dipertegas dengan laporan internal yang mengindikasikan adanya pelemahan penjualan secara berkepanjangan sepanjang bulan April dan Mei 2026.

Sebelum dokumen keuangan tersebut diterbitkan, GoPro sebenarnya telah menempuh sejumlah langkah efisiensi. Perusahaan telah memotong hampir seperempat dari total stafnya sejak April lalu serta menjual beberapa aset perusahaan. Pendiri GoPro juga menyatakan dukungannya jika perusahaan harus menempuh opsi penjualan atau merger ke pihak lain demi menyelamatkan bisnis.

Tekanan berat yang dihadapi GoPro juga tidak lepas dari ketatnya persaingan dengan produsen asal China, seperti DJI dan Insta360, yang kini telah menyalip posisi GoPro di beberapa pasar utama.

Laporan data ritel dari Jepang menunjukkan posisi GoPro yang semula sangat dominan kini merosot tajam hingga hanya menyisakan 19 persen pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir.

Selain faktor persaingan, melemahnya bisnis inti GoPro dipicu oleh pertumbuhan permintaan kamera aksi klasik yang melambat. Hal ini terjadi karena pengguna kasual kini lebih memilih menggunakan smartphone, ditambah dengan siklus pembaruan perangkat dari konsumen lama yang tercatat semakin panjang.