News

Menlu AS Sebut Pemimpin Tertinggi Iran Masih Hidup dan Aktif

17
×

Menlu AS Sebut Pemimpin Tertinggi Iran Masih Hidup dan Aktif

Sebarkan artikel ini
acbfd995f1365440f996a952edb29d2d.jpg
acbfd995f1365440f996a952edb29d2d.jpg

Washington – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa proses pengambilan keputusan di Iran saat ini sangat terpusat di tangan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Meski tidak pernah muncul ke publik pasca-terluka dalam perang yang pecah sejak Februari 2026, Khamenei disebut tetap memegang kendali penuh atas arah kebijakan negara.

Rubio menyatakan bahwa keterlibatan Khamenei kini dilakukan secara tertulis melalui jaringan perantara yang kompleks. Kondisi ini membuat setiap langkah negosiasi diplomatik dengan Teheran harus melalui proses birokrasi internal yang panjang, yang seringkali memakan waktu hingga lima hari untuk mendapatkan respons.

Menurut intelijen Amerika Serikat, keterlambatan dalam komunikasi ini terjadi karena Khamenei diduga bersembunyi di bunker rahasia dengan pengamanan ketat. Lokasi persembunyian tersebut membatasi aksesnya terhadap dunia luar, sehingga ia hanya bisa berkomunikasi lewat kurir khusus.

Situasi tersebut menjadi salah satu faktor penghambat dalam upaya Washington dan Teheran untuk mengubah gencatan senjata yang rapuh menjadi kesepakatan damai permanen. Meski demikian, pejabat senior AS mengonfirmasi bahwa Khamenei sebenarnya telah memberikan lampu hijau terhadap garis besar draf perjanjian yang diusulkan.

Ketegangan antara AS dan Iran sendiri telah memakan korban jiwa yang signifikan sejak serangan pada 28 Februari 2026, yang juga menewaskan mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Hingga kini, otoritas Iran mencatat lebih dari 3.000 kematian di pihak mereka, sementara 13 personel militer AS dinyatakan tewas akibat serangan balasan Iran di wilayah Teluk.

Di sisi lain, terdapat perbedaan laporan mengenai kelanjutan perundingan. Di saat Washington bersikeras bahwa dialog masih berjalan, media di Iran justru mengabarkan bahwa pertukaran pesan antara kedua negara telah terhenti dalam beberapa hari terakhir. Upaya diplomasi ini terus diupayakan untuk mengakhiri konflik yang telah melumpuhkan aktivitas di Selat Hormuz selama berbulan-bulan.