Berita

Desakan Mundur Gus Yahya Warnai Dinamika Kepemimpinan PBNU

127
×

Desakan Mundur Gus Yahya Warnai Dinamika Kepemimpinan PBNU

Sebarkan artikel ini
d3ce418ea635b0c1ba258a50e9ce61ca.jpg
d3ce418ea635b0c1ba258a50e9ce61ca.jpg

Jakarta – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memanas setelah beredarnya risalah rapat yang meminta Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mundur dari jabatannya. Risalah rapat harian Syuriyah tersebut, yang menjadi sorotan publik sejak Jumat (21/11/2025), memberi Gus Yahya waktu tiga hari untuk mengundurkan diri, atau akan diberhentikan secara paksa.

Permintaan pengunduran diri itu didasari oleh tiga poin utama yang dianggap melanggar nilai-nilai organisasi dan berpotensi mencoreng nama baik PBNU. Risalah tersebut ditandatangani oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar.

Poin pertama, rapat memandang bahwa mengundang narasumber terkait jaringan Zionisme Internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) telah melanggar ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah serta Muqaddimah Qanun Asasi NU.

Kedua, pelaksanaan AKN NU dengan narasumber tersebut di tengah praktik genosida dan kecaman dunia internasional terhadap Israel dianggap mencemarkan nama baik Perkumpulan. Hal ini dinilai memenuhi ketentuan Pasal 8 huruf a Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pemberhentian Fungsionaris.

Ketiga, tata kelola keuangan di lingkungan PBNU mengindikasikan pelanggaran hukum syara’, peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta Anggaran Rumah Tangga NU Pasal 97-99. Kondisi ini dinilai membahayakan eksistensi Badan Hukum Perkumpulan NU.

Dengan mempertimbangkan ketiga poin tersebut, Rapat Harian Syuriyah menyerahkan sepenuhnya pengambilan keputusan kepada Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam. Musyawarah ketiganya kemudian memutuskan agar Gus Yahya mengundurkan diri dalam waktu tiga hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU. Apabila tidak, Gus Yahya akan diberhentikan dari jabatan Ketua Umum PBNU.

Menanggapi dinamika ini, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengimbau seluruh pengurus NU di semua tingkatan untuk tetap tenang dan menjaga suasana kondusif. Menurutnya, ini adalah perkara organisasi biasa yang sedang ditangani jajaran Syuriah PBNU sesuai mekanisme internal.

“Ini dinamika organisasi yang sedang berjalan. Saya minta semua pengurus dan warga NU tetap tenang, tidak terbawa arus berita yang menyesatkan, dan tidak memperbesar kesalahpahaman,” ujar Gus Ipul di Jakarta, Jumat (21/11/2025). Ia juga meminta pengurus untuk tetap berkonsolidasi, menjaga ukhuwah, dan menahan diri dari langkah atau pernyataan yang dapat memperkeruh keadaan.

Gus Ipul menekankan bahwa seluruh proses organisasi berada di tangan pemilik otoritas tertinggi, yakni jajaran Syuriah PBNU yang dipimpin Rais Aam dan dua wakil Rais Aam. “Kita serahkan sepenuhnya kepada Rais Aam dan para wakilnya. Insya Allah semua akan diselesaikan dengan baik, proporsional, dan sesuai adab organisasi,” tambahnya.

Secara terpisah, A’wan PBNU Kiai Abdul Muhaimin membenarkan adanya risalah rapat yang meminta Gus Yahya mundur dari jabatannya. “Benar,” kata Kiai Abdul, saat dihubungi awak media, Sabtu (22/11/2025).

Namun, ia menyayangkan beredarnya surat internal tersebut karena pembicaraan internal tak seharusnya disebarkan di luar forum Nahdlatul Ulama. Kiai Abdul berharap, mereka yang menyebarkan hasil rapat tersebut berhenti menggunakan cara yang sama. Menurutnya, masalah internal seharusnya bisa diselesaikan dengan cara seperti yang sering dikatakan Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur: “biasa gegeran (berdebat) tapi nanti kan hasilnya ger-geran (tertawa bersama).”

Sementara itu, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyatakan pihaknya tidak akan ikut campur ke ranah internal NU. Ia memilih menunggu proses yang sedang berjalan. “Kita tunggu saja. Biarkan proses internal mereka berlangsung,” ujar Cak Imin di Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (22/11/2025).

Cak Imin berharap, apapun keputusan yang akan diambil PBNU merupakan yang terbaik bagi organisasi. “Moga-moga akan ada keputusan yang terbaik untuk NU,” ucapnya.

Adapun Gus Yahya, saat menghadiri pertemuan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di hotel Novotel Samator Surabaya, Sabtu (22/11/2025) malam, mengaku belum menerima risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang meminta dia mundur. “Saya belum menerima suratnya,” ujarnya singkat. Ia menambahkan bahwa pertemuan ketua PWNU tingkat provinsi di Surabaya tersebut hanyalah rapat koordinasi biasa. “Ini acara rapat koordinasi,” kata Gus Yahya.