Berita

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem Landa Wilayah Ini dalam Sepekan

139
×

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem Landa Wilayah Ini dalam Sepekan

Sebarkan artikel ini
4150036b4f84b9f1d57c5db2c3473b20.jpg
4150036b4f84b9f1d57c5db2c3473b20.jpg

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem, berupa hujan lebat disertai angin kencang, yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah di Indonesia selama sepekan ke depan, terhitung sejak 12 September 2025.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer yang kompleks berkontribusi terhadap peningkatan risiko bencana hidrometeorologi. “Dinamika ini memicu potensi hujan lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang yang perlu diwaspadai masyarakat maupun pemerintah daerah. Cuaca ekstrem ini dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, maupun gelombang tinggi,” ujarnya pada Jumat, 12 September 2025.

Berdasarkan prediksi BMKG untuk periode 12 hingga 14 September, hujan lebat rutin diprakirakan mengguyur wilayah Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta DI Yogyakarta. Prediksi serupa juga berlaku untuk Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, hingga Papua Tengah dan Papua Selatan. Selain itu, potensi angin kencang berpeluang terjadi di Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Sementara itu, pada 15 hingga 18 September, hujan lebat masih akan mengguyur Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Risiko angin kencang tetap mengintai Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Dwikorita membeberkan, beberapa faktor atmosfer memicu kondisi ini. Fase Dipole Mode Index (DMI) yang bernilai negatif (−1,27), serta anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang juga negatif, mendukung pembentukan awan hujan.

Kondisi tersebut diperkuat oleh aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, gelombang Rossby ekuator, serta gelombang atmosfer frekuensi rendah yang aktif. Bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia barat Bengkulu juga menciptakan konvergensi dan konfluensi angin. Faktor lainnya adalah pola siklonik di Kalimantan Utara yang turut memperbesar peluang hujan.