Ecozone

BI Rate Naik 100 BPS, NIM Bank BUMN Kian Tertekan

10
×

BI Rate Naik 100 BPS, NIM Bank BUMN Kian Tertekan

Sebarkan artikel ini
9fb4b29103d84310a10f36e5b2bae081.jpg
9fb4b29103d84310a10f36e5b2bae081.jpg

Jakarta – Kebijakan moneter Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) secara year-to-date menjadi 5,75 persen mulai memberikan dampak pada sektor perbankan nasional. Kendati demikian, transmisi kebijakan tersebut terhadap biaya dana atau cost of fund (CoF) perbankan diprediksi belum sepenuhnya terasa pada kuartal II 2026.

Analis CGS International Securities, Owen Tjandra, dalam riset tertanggal 15 Juni 2026 menjelaskan bahwa kenaikan biaya dana perbankan akan terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini seiring dengan penyesuaian suku bunga simpanan yang mengikuti arah suku bunga acuan. Untuk periode kuartal II 2026, tekanan terhadap biaya dana dinilai masih berada dalam level yang relatif minimal.

Sektor perbankan saat ini mendapatkan dukungan likuiditas dari kebijakan fiskal pemerintah. Kementerian Keuangan tercatat masih menempatkan kelebihan kasnya di sejumlah bank BUMN. Penempatan dana ini memiliki jadwal jatuh tempo pada Juni 2026 dan September 2026. Aliran dana tersebut berperan penting dalam meredam tekanan kenaikan biaya dana di sistem perbankan nasional dalam jangka pendek.

Owen menyoroti bahwa bank-bank BUMN telah mengelola neraca keuangan mereka dengan cukup optimal. Data menunjukkan bahwa Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di kisaran 92 persen pada empat bulan pertama 2026. Sementara itu, sekitar 35 persen dari total deposito merupakan deposito khusus yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan suku bunga.

Terkait penyaluran kredit, kenaikan suku bunga acuan berpotensi memicu kenaikan imbal hasil pada segmen kredit wholesale. Namun, ruang untuk melakukan penyesuaian harga atau repricing dinilai terbatas. Kondisi ini dipengaruhi oleh ketatnya persaingan di segmen tersebut serta kondisi operasional yang belum sepenuhnya kuat.

Penyesuaian suku bunga diperkirakan lebih mudah diterapkan pada kredit dengan suku bunga mengambang atau floating rate yang mencakup porsi 20 persen hingga 40 persen dari portofolio kredit perbankan. Sebaliknya, pada segmen kredit dengan suku bunga terkelola atau managed rate yang memiliki porsi 30 persen hingga 50 persen, kenaikan suku bunga diprediksi akan berlangsung lebih terbatas.

Dari sisi aset, perbankan yang memiliki likuiditas berlebih berpeluang memperoleh keuntungan dari penempatan dana pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun obligasi pemerintah. Hal ini didorong oleh meningkatnya imbal hasil pada instrumen pasar uang dalam beberapa kuartal ke depan.

CGS International memperkirakan adanya perbedaan sensitivitas dampak kenaikan suku bunga terhadap margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM). Setiap kenaikan 25 bps suku bunga acuan diprediksi memberikan dampak positif sekitar 7 bps terhadap NIM Bank Central Asia (BBCA). Sebaliknya, pada bank-bank BUMN, kenaikan tersebut justru berpotensi menekan NIM sekitar 7 bps dengan asumsi faktor lainnya tetap.

Meskipun tekanan suku bunga meningkat, kualitas aset perbankan pada awal 2026 terpantau tetap solid. Risiko kenaikan biaya kredit dinilai masih terbatas. Segmen wholesale menunjukkan ketahanan yang baik, sementara kredit ritel masih menjadi titik yang relatif lebih rapuh dalam portofolio perbankan.

CGS International tetap mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor perbankan. Rekomendasi ini didasarkan pada valuasi saham perbankan yang berada di level siklus rendah serta prospek stabilitas kualitas aset yang terjaga. Saham BBCA dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi pilihan utama. BBCA diuntungkan oleh potensi peningkatan yield aset, sementara BBNI memiliki bantalan likuiditas yang lebih kuat.

Risiko utama yang perlu diwaspadai mencakup kenaikan biaya dana yang melebihi ekspektasi serta potensi penurunan kualitas kredit. Di sisi lain, katalis positif bagi sektor ini bersumber dari arus masuk investor asing, penguatan NIM, serta pertumbuhan kredit yang melampaui proyeksi awal.

fa48f6fb5cffadd8f06789539e0128f4.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perkembangan industri aset digital di Indonesia kembali menunjukkan dinamika baru. IDNGold (IDNG), aset digital yang dikembangkan PT Smart Billionaire Indonesia (SBI), resmi dapat diakses dan diperdagangkan melalui platform Reku mulai 18 Juni 2026 pukul 14.00 WIB. Langkah ini dinilai jadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap aset digital yang menggabungkan teknologi blockchain dengan nilai nyata melalui…

76013dc261354886e8081fcd89265a2b.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar modal Indonesia kembali mendapat sorotan pasca MSCI merilis penilaian dan memberikan catatan. Dalam MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis Jumat (19/6/2026) dini hari waktu Indonesia, MSCI masih menyoroti beberapa hambatan struktural yang membuat akses pasar Indonesia dinilai kurang kompetitif dibanding negara emerging market lainnya. MSCI pun secara eksplisit menurunkan penilaian Information Flow dari…