Jakarta – Pemerintah dan PT PLN (Persero) memastikan pasokan listrik di Pulau Jawa akan kembali normal setelah sempat mengalami kendala teknis dan kekurangan suplai batu bara. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pemadaman listrik bergilir yang sempat terjadi tidak akan terulang kembali di masa mendatang.
Bahlil mengakui bahwa saat ini memang terdapat tantangan dalam pemenuhan pasokan batu bara dengan kalori menengah sebesar 5.200 kcal/kg GAR untuk kebutuhan sepanjang Juni 2026. Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah telah membentuk tim pengadaan lintas sektor guna mempercepat pemenuhan kebutuhan energi pembangkit.
Menurut Bahlil, tren penurunan kualitas kalori batu bara yang tersedia menjadi salah satu faktor utama kendala pasokan. Dari total kebutuhan nasional sebesar 154 juta ton sepanjang tahun ini, kontrak yang telah terealisasi baru mencapai 134 juta ton. Artinya, terdapat selisih kekurangan sekitar 18 hingga 20 juta ton yang harus segera dipenuhi.
Meskipun terdapat celah pasokan, Bahlil menegaskan bahwa sistem kelistrikan nasional secara keseluruhan tetap terjaga. Ia meminta masyarakat untuk tidak khawatir akan adanya pemadaman listrik lanjutan karena solusi mitigasi telah dipersiapkan dengan matang oleh pihak terkait.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pelanggan di Pulau Jawa atas ketidaknyamanan akibat pemadaman bergilir yang terjadi pada Jumat (19/6) malam. Ia menyatakan bahwa PLN telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mempercepat pengiriman batu bara dengan tingkat kandungan kalori menengah atau Medium Rank Coal (MRC).
Darmawan menjelaskan bahwa saat ini pasokan MRC telah mulai mengalir ke sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang tersebar di Pulau Jawa, baik yang dikelola langsung oleh PLN maupun oleh mitra perusahaan.
Untuk wilayah Jawa Bagian Barat, distribusi batu bara telah menyasar PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Lontar, PLTU Labuan, PLTU Suralaya 1-8, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 dan 10, serta PLTU Indramayu. Sementara untuk wilayah Jawa Bagian Timur, pasokan telah dialokasikan ke PLTU Paiton 1 dan 2, PLTU Paiton 9, PLTU Rembang, PLTU Pacitan, dan PLTU Tanjung Awar-Awar.
Selain persoalan pasokan bahan bakar, Darmawan mengungkapkan bahwa pemadaman bergilir tersebut juga dipicu oleh kendala teknis pada dua pembangkit besar di Pulau Jawa. Gangguan tersebut terjadi pada pembangkit yang dioperasikan oleh pihak mitra atau Independent Power Producer (IPP).
Darmawan menjelaskan bahwa dua pembangkit tersebut mengalami gangguan teknis yang tidak terduga, sehingga terpaksa keluar dari sistem kelistrikan utama di Pulau Jawa. Kondisi ini memperparah beban sistem saat pasokan batu bara mengalami kendala. Saat ini, tim teknis terus melakukan upaya pemulihan agar seluruh pembangkit dapat beroperasi kembali secara maksimal dan menjamin stabilitas pasokan listrik bagi masyarakat.







