Showbiz

Aurelie Moeremans Ungkap Trauma, Rilis Memoar, Lalu Diteror!

167
×

Aurelie Moeremans Ungkap Trauma, Rilis Memoar, Lalu Diteror!

Sebarkan artikel ini
usai-rilis-memoar-kelam,-aurelie-moeremans-ngaku-kembali-diteror:-lucunya-ada-yang-merasa!
usai rilis memoar kelam, aurelie moeremans ngaku kembali diteror: lucunya ada yang merasa!

Jakarta – Aurelie Moeremans jadi perbincangan setelah meluncurkan memoar berjudul “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth”.

Dalam buku itu, Aurelie mengungkap pengalaman pahit masa remajanya.

Ia mengaku menjadi korban grooming oleh mantan kekasihnya yang jauh lebih tua saat berusia 15 tahun.

Aurelie membeberkan relasi yang penuh manipulasi dan kontrol dalam memoarnya.

Ia menggambarkan bagaimana kebebasan dan ruang amannya direnggut, sebelum akhirnya berjuang menyelamatkan diri.

Aurelie menegaskan bahwa penulisan buku itu bukan serangan personal.

“Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun,” katanya, Selasa (13/1/2026).

Namun, setelah potongan memoar itu viral, Aurelie mengaku kembali merasakan tekanan.

Ia menyebut ada pihak yang merasa tersinggung dan mengusiknya.

“Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas,” ungkap Aurelie.

Situasi ini menyeret perhatian publik ke Instagram Roby Tremonti.

Ia diyakini warganet sebagai pria yang disebut Aurelie dengan nama samaran “Bobby” dalam bukunya.

Meski tak disebut eksplisit, sejumlah netizen mengaitkan keduanya berdasarkan riwayat hubungan di masa lalu.

Merespons spekulasi, Roby Tremonti mengunggah kutipan bernuansa hukum.

Kutipan itu menyinggung tuduhan, pencemaran nama baik, serta risiko hukum dari pernyataan di ruang publik.

Ia menilai, meski namanya tak tercantum dalam buku, dampaknya tetap terasa langsung.

“Dampak dari buku tersebut membuat akun Instagram saya mendapatkan komentar-komentar fitnah yang super liar,” ujarnya.

Roby juga menyoroti opini publik yang terbentuk cepat di era digital.

Ia menyebut situasi itu sebagai bagian dari fenomena cancel culture.

“Tujuan dari sumber tersebut memang jelas mau membuat kredibilitas saya hancur, aka cancel culture bahasa modern sekarang,” tulisnya.