Ekonomi

Asosiasi Keramik Soroti Krisis Pasokan Gas yang Ancam Puluhan Ribu Pekerja

18
×

Asosiasi Keramik Soroti Krisis Pasokan Gas yang Ancam Puluhan Ribu Pekerja

Sebarkan artikel ini
4cc5da201b98b981ed0ac7745efdb796.jpg
4cc5da201b98b981ed0ac7745efdb796.jpg

Jakarta – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyatakan kondisi industri keramik nasional saat ini tengah berada dalam tekanan berat akibat lonjakan biaya energi. Tingginya harga gas industri dan ketidakpastian pasokan menjadi pemicu utama ancaman penutupan operasional pabrik serta potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

Ketua ASAKI Edy Suyanto menyebutkan bahwa ancaman ini nyata menyusul kabar mengenai dua pabrik keramik besar di Bekasi yang berisiko berhenti beroperasi. Situasi tersebut dikhawatirkan berdampak pada sekitar 55 ribu pekerja yang terancam kehilangan mata pencaharian dalam waktu dekat.

Permasalahan utama terletak pada pasokan gas melalui skema Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang terus merosot. Data mencatat, pada periode Januari hingga Mei 2026, realisasi pasokan AGIT untuk industri keramik hanya mencapai 47,5 persen dari kebutuhan.

Kekurangan pasokan tersebut memaksa pelaku industri beralih menggunakan gas hasil regasifikasi Liquefied Natural Gas (LNG) yang harganya jauh lebih mahal. Harga gas regasifikasi tersebut mencapai kisaran US$20,5 per MMBTU.

Edy menjelaskan bahwa kondisi ini membuat rata-rata harga gas yang harus dibayarkan industri keramik berada di kisaran US$15 hingga US$16 per MMBTU. Angka tersebut tercatat dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dipatok sebesar US$7 per MMBTU.

Kondisi beban biaya operasional ini diprediksi akan semakin memburuk pada Juni 2026. Berdasarkan informasi terbaru dari PGN, pasokan AGIT berpotensi kembali menyusut hingga berada di bawah level 30 persen.

Tingginya biaya energi tersebut secara langsung menggerus daya saing produk keramik nasional di pasar domestik maupun global. Industri kini menghadapi tantangan berat akibat gempuran produk impor yang lebih murah, terutama dari Cina dan India.

Menurut Edy, perjuangan asosiasi saat ini bukan sekadar meminta harga gas yang murah. Fokus utama ASAKI adalah memastikan keberlangsungan investasi dan menjaga lapangan kerja bagi sekitar 150 ribu tenaga kerja yang bernaung di bawah industri keramik.

ASAKI mengusulkan agar pemerintah dapat menjaga harga gas industri di rentang US$7 hingga US$9 per MMBTU. Level harga tersebut dinilai setara dengan standar harga gas di negara kompetitor seperti Malaysia dan Thailand agar industri tetap mampu bertahan.

Untuk mencapai target harga tersebut, ASAKI mengharapkan realisasi pasokan AGIT dapat ditingkatkan hingga 80 persen. Sementara sisa kebutuhan energi lainnya dapat dipenuhi melalui skema harga regasifikasi LNG yang lebih terukur.

Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyoroti ancaman penutupan operasional pada pabrik granit, Milan Keramik, dan Mulia Keramik. Andi menegaskan bahwa ancaman tersebut merupakan sinyal bahaya bagi stabilitas ketenagakerjaan di sektor industri manufaktur.

Pihak serikat pekerja telah menerima laporan mengenai pembahasan keberlanjutan operasional di tingkat perusahaan. Jika tidak segera ada solusi terkait pasokan dan harga gas, gelombang PHK di sektor ini dinilai sulit untuk dihindari.