Life

Anemia Defisiensi Besi: Gejala Dikenali, Penyebab Diatasi dengan Tepat

128
×

Anemia Defisiensi Besi: Gejala Dikenali, Penyebab Diatasi dengan Tepat

Sebarkan artikel ini
679d9b4a97724ca338991f38303f20e1.jpg
679d9b4a97724ca338991f38303f20e1.jpg

Yogyakarta – Anemia defisiensi besi menjadi masalah gizi serius yang kerap luput dari perhatian di Indonesia. Kondisi ini berdampak besar pada kualitas hidup anak, berkontribusi pada tingginya angka stunting. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mengungkap, satu dari empat anak Indonesia menderita anemia, yang menjadi pemicu keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan otak.

Kekurangan zat besi ini terjadi saat tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin, protein penting pengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika dibiarkan, anemia dapat menghambat tumbuh kembang, menurunkan daya tahan tubuh, bahkan memengaruhi kecerdasan dan prestasi belajar anak.

Dokter Spesialis Anak RS Bethesda Yogyakarta, Devie Kristiani, menjelaskan bahwa gejala anemia defisiensi besi sering tidak disadari pada tahap awal. Anak mungkin terlihat pucat, mudah lelah, lesu, atau kurang aktif.

Gejala lain yang perlu orang tua waspadai antara lain berat badan sulit naik, pertumbuhan terlambat, penurunan nafsu makan, hingga kebiasaan pica—memakan benda bukan makanan seperti tanah atau es batu. “Anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah kurang darah. Kondisi ini berdampak langsung pada perkembangan saraf dan otak,” tegas Devie.

Studi menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor kognitif, kemampuan psikomotor, dan konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan anak dengan kadar zat besi cukup. Hal ini tentu berpengaruh pada kesiapan belajar mereka di sekolah dan performa akademik jangka panjang.

Oleh karena itu, Devie menekankan pentingnya orang tua memastikan anak mendapatkan kecukupan zat besi sejak periode ASI eksklusif, guna memenuhi kebutuhan zat besi di awal kehidupannya.

Kekurangan zat besi pada anak umumnya disebabkan oleh asupan makanan yang rendah zat besi, penyerapan zat besi yang tidak optimal, atau kehilangan darah akibat infeksi kronis. Kelompok anak berisiko tinggi termasuk bayi prematur, anak dari ibu penderita anemia selama kehamilan, dan anak yang mengonsumsi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) rendah zat besi.

Menanggapi tantangan ini, Medical & Scientific Affairs Director Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi, menyoroti pentingnya inovasi berbasis penelitian ilmiah. Timnya telah menyelesaikan studi terkait inovasi pencegahan dan menemukan bahwa penyerapan zat besi meningkat signifikan hingga dua kali lipat saat dikombinasikan dengan vitamin C.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak Indonesia usia 1-3 tahun yang rutin mengonsumsi dua gelas susu pertumbuhan SGM Eksplor dengan kandungan IronC (kombinasi Zat Besi dan Vitamin C) setiap hari, didukung asupan makanan bernutrisi seimbang, terbukti memiliki kecukupan asupan zat besi harian sesuai angka kecukupan gizi (AKG).

Ray juga berkomitmen untuk terus mengembangkan penelitian yang berfokus pada peningkatan status gizi anak Indonesia, termasuk publikasi ilmiah mengenai pemenuhan zat besi dan dampaknya terhadap tumbuh kembang.

Selain inovasi produk dan penelitian berkelanjutan, Sarihusada turut mengembangkan alat bantu digital “Kalkulator Zat Besi”. Alat ini tersedia melalui platform seperti Alfagift dan situs generasimaju.co.id, membantu orang tua menghitung kebutuhan zat besi harian anak dan mendeteksi dini risiko anemia defisiensi besi.

“Deteksi dan intervensi dini menjadi kunci dalam mencegah anemia defisiensi besi. Dengan asupan nutrisi yang tepat, pemantauan rutin, dan edukasi berkelanjutan, kita bisa membantu anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan mencapai potensi maksimal mereka,” pungkas Ray.

89cdc83b2ef262c6a983d187cdd9fc78.jpg
Life

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) terus mengalami perlambatan tahun ini. Usai meningkatnya bunga acuan (BI Rate) ke level 5,5%, perlambatan KKB dikhawatirkan akan terus berlanjut. Data Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran KKB pada beberapa bulan terakhir ini masih mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode sama di tahun lalu. Misalnya pada April 2026, BI mencatat penyaluran KKB terkontraksi 9%…