Berita

Siswa SMAN 72 Jakarta Ungkap Detik-Detik Mencekam Sebelum Ledakan Terjadi

92
×

Siswa SMAN 72 Jakarta Ungkap Detik-Detik Mencekam Sebelum Ledakan Terjadi

Sebarkan artikel ini
58b567f90f0bb694922b4ad6ca20506f.jpg
58b567f90f0bb694922b4ad6ca20506f.jpg

Jakarta – Sebuah ledakan keras mengguncang musala SMAN 72 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, beberapa menit menjelang Salat Jumat pada Jumat, 7 November 2025. Insiden ini menyebabkan sejumlah siswa dan staf sekolah berhamburan dengan luka-luka, sementara seorang siswa bernama Ali (bukan nama sebenarnya) menceritakan detik-detik mencekam tersebut.

Ali, siswa berusia 16 tahun, saat itu tengah bermain bersama teman-temannya di halaman musala. Mereka biasa menghabiskan waktu di area itu sebelum Salat Jumat dimulai.

Saat bergegas menuju musala, Ali terkejut bukan main mendengar dentuman keras pertama dari dalam musala. Ia yang semula akan masuk, sontak menghentikan langkahnya.

Bersama teman-temannya, Ali mencoba mencari sumber suara dentuman keras itu. Ketika ia mendekati musala, sebuah dentuman keras kedua tiba-tiba terdengar dari luar. Momen itu membuat Ali terpikir untuk segera menjauh.

“Aku awalnya mikir, jangan-jangan sound system yang meledak. Tapi ternyata enggak lama setelah itu ada dentuman lagi dari luar,” tutur Ali saat ditemui di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat malam.

Kebingungan Ali memuncak saat ia menyaksikan teman-temannya berhamburan keluar dari musala dengan wajah berlumuran darah. Ia mengaku tak tahu harus berbuat apa melihat situasi tersebut.

Namun, setelah semua orang di sekitarnya berteriak meminta evakuasi, Ali langsung bergerak membantu teman-temannya. Suasana siang itu penuh dengan kepulan asap.

Ali tak lagi memikirkan keselamatannya sendiri. “Yang jelas aku sudah enggak mikir apa-apa lagi, bingung, langsung bantu teman-teman saja buat dibawa ke tempat yang aman. Ada yang teriak-teriak minta ambil tandu,” kata Ali.

Di dalam musala itu, kata Ali, tak hanya siswa laki-laki yang hendak salat Jumat. Guru, penjaga sekolah, hingga penjaga kantin juga turut hadir untuk beribadah. Ia tidak dapat memastikan apakah ada guru yang turut menjadi korban ledakan.

Bagi Ali, peristiwa ledakan itu cukup membuatnya trauma. Ia khawatir kejadian serupa dapat terulang kembali. “Ini pertama kali terjadi. Aku kaget, takut, bingung. Masih enggak ngerti memprosesnya bagaimana,” ucapnya. Ali berharap kejadian ini cukup sekali saja terjadi dalam hidupnya.

Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab ledakan yang terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading Barat tersebut. Sejumlah korban diketahui masih dirawat di RS Islam Cempaka Putih dan RS Yarsi, Jakarta Pusat.