Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Jumat (17/7/2026) karena adanya peningkatan volume pembelian di pasar modal domestik.
Dilansir dari riset MNC Sekuritas, analis Herditya Wicaksana menyatakan bahwa indeks berpeluang menguji rentang level 6.137 hingga 6.254 setelah pada penutupan sesi sebelumnya berhasil menguat 1,10% ke posisi 6.108.
Secara teknikal, pergerakan indeks masih berada dalam pola tren kenaikan yang didukung oleh posisi harga di atas garis rata-rata pergerakan lima hari (MA5) dan 20 hari (MA20).
Herditya menyarankan pelaku pasar untuk tetap mencermati area koreksi yang diproyeksikan berada di kisaran 5.974 hingga 6.020.
MNC Sekuritas menetapkan area support pada rentang 5.839 hingga 5.607 serta level resistance pada kisaran 6.286 hingga 6.599.
Support merupakan titik harga terendah yang berpotensi memicu daya beli, sementara resistance adalah batas atas yang kerap memicu aksi jual oleh investor.
Perusahaan sekuritas ini merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada rentang harga Rp 4.780 hingga Rp 4.950 dengan target harga Rp 5.400 hingga Rp 5.700.
Selain itu, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) juga disarankan untuk diakumulasi pada area Rp 2.230 hingga Rp 2.450 dengan target harga Rp 2.610 hingga Rp 2.760.
Sentimen positif lainnya datang dari Phintraco Sekuritas yang mencatat kembalinya aksi beli investor asing di pasar reguler sebesar Rp 283,41 miliar serta penguatan nilai tukar rupiah sebesar 0,46%.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) dinilai mulai menunjukkan pelebaran positive slope yang mengindikasikan momentum penguatan indeks masih terjaga dengan baik.
“IHSG berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area resistance 6.125–6.175,” kata Phintraco dalam analisisnya.
Faktor fundamental yang turut mendukung pasar adalah realisasi investasi Indonesia pada kuartal II 2026 yang mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1% secara tahunan.
Investasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 49,6% dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 50,4%.
Kinerja investasi asing langsung (FDI) di luar sektor keuangan serta minyak dan gas mencatatkan rekor tertinggi sebesar Rp 257,7 triliun pada periode tersebut.
Aliran modal asing terbesar tercatat masuk ke sektor industri logam dasar, jasa lainnya, dan pertambangan.
Meski pertumbuhan ekonomi diprediksi solid, Phintraco mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap investasi berbasis komoditas masih menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham pilihan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
Pilihan saham lain yang disarankan mencakup PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) serta PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).







