Ecozone

PGN Garap Cadangan Gas Batu Bara Rp275 Triliun di Tanjung Enim

43
×

PGN Garap Cadangan Gas Batu Bara Rp275 Triliun di Tanjung Enim

Sebarkan artikel ini
c047ed9fe8901acdcd03479fe6e9bdc5.jpg
c047ed9fe8901acdcd03479fe6e9bdc5.jpg

Jakarta, Fenesia.com – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) kini memfokuskan strategi kemandirian energi nasional melalui optimalisasi sumber gas nonkonvensional di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, dengan membidik potensi coal bed methane (CBM) sebagai pilar utama pasokan domestik.

Langkah strategis ini diambil guna menjawab tantangan defisit pasokan gas bagi sektor industri dan pembangkit listrik yang terus meningkat setiap tahunnya.

Data pemerintah menunjukkan bahwa wilayah Tanjung Enim menyimpan kandungan gas coal bed methane yang sangat besar.

Estimasi volume Original Gas in Place (OGIP) di lokasi tersebut mencapai sekitar 9,7 triliun kaki kubik (TCF).

Nilai ekonomi dari potensi gas tersebut diperkirakan mencapai US$ 15,4 miliar atau setara Rp 275,8 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.911 per dolar AS.

Perusahaan saat ini telah mempersiapkan langkah-langkah konkret untuk mengintegrasikan gas nonkonvensional tersebut ke dalam jaringan transmisi nasional.

“PGN menegaskan kesiapan teknis maupun komersial melalui penyusunan skema pemanfaatan gas bumi yang ada, dengan target penyaluran yang diproyeksikan tumbuh secara bertahap mulai dari 1 MMSCFD hingga mencapai 25 MMSCFD,” tulis PGN dalam siaran resmi, dikutip Selasa (7/7).

Diversifikasi pasokan tidak hanya berhenti pada pengembangan coal bed methane saja.

PGN juga mulai melirik pemanfaatan biomethane yang berasal dari limbah kelapa sawit serta produksi Synthetic Natural Gas (SNG).

Sumatra Selatan dinilai menjadi hub strategis karena memiliki cadangan melimpah untuk ketiga sumber gas alternatif tersebut.

Untuk menjamin kelancaran distribusi, perseroan akan membangun fasilitas injection point sebagai titik sentral pengumpulan gas.

Fasilitas ini krusial untuk mengintegrasikan gas dari berbagai sumber sebelum dialirkan ke pipa transmisi eksisting.

Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, menjelaskan bahwa infrastruktur tersebut merupakan kunci efisiensi penyaluran.

“Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coal bed methane, dari biomethane ataupun juga sumber lainnya akan dikumpulkan yang kemudian akan dimasukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada,” ujar Arief.

Inisiatif ini turut melibatkan kolaborasi strategis dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk hilirisasi batu bara peringkat rendah (low-rank coal).

Cadangan batu bara milik PTBA yang selama ini belum termonetisasi akan diubah menjadi SNG.

Kedekatan lokasi proyek dengan pipa transmisi PGN di Pagardewa memberikan keuntungan signifikan dalam menekan biaya pembangunan infrastruktur.

Sepanjang tahun 2025, kedua perusahaan intensif melakukan studi kelayakan terkait fasilitas produksi dan skema bisnis jangka panjang.

“Inisiatif ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam hilirisasi dan kemandirian energi. Jika terealisasi, proyek ini berpotensi memperkuat pasokan gas dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” kata Rosa Permata Sari, yang saat itu menjabat Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, dalam siaran pers pada April 2025.

Pemanfaatan SNG diproyeksikan akan menjadi tulang punggung pasokan bagi pelanggan industri, khususnya di wilayah Jawa bagian barat.

PGN berkomitmen memastikan seluruh tahapan proyek tetap mematuhi prinsip tata kelola yang baik melalui koordinasi intensif dengan Kementerian ESDM dan Holding Migas Pertamina.