Jakarta – Pasar saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi atau mixed pada perdagangan Selasa (23/6/2026) pagi. Investor di pasar modal regional saat ini tengah berada dalam posisi wait and see, mencermati dinamika geopolitik terkait perkembangan pembicaraan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung.
Hingga pukul 08.20 WIB, data bursa menunjukkan hasil yang beragam. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat mengalami koreksi tipis sebesar 46,15 poin atau 0,06 persen ke level 72.291,97. Kondisi serupa dialami oleh indeks Kospi di Korea Selatan yang melemah signifikan sebesar 175,51 poin atau 1,93 persen, menetap di posisi 8.939,15.
Di sisi lain, beberapa bursa utama Asia lainnya justru mampu mencatatkan penguatan. Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 31,50 poin atau 0,13 persen ke level 23.800,02. Sementara itu, indeks Taiex mencatatkan kenaikan paling menonjol sebesar 345,62 poin atau 0,72 persen ke level 48.075,19.
Penguatan terbatas juga terlihat pada indeks ASX 200 yang naik 1,16 poin atau 0,01 persen ke level 8.818,70. Indeks Straits Times menguat 29,30 poin atau 0,55 persen ke level 5.233,26, serta FTSE Malaysia yang naik tipis 0,1 poin atau 0,01 persen ke posisi 1.701,07. Secara keseluruhan, indeks MSCI yang menjadi tolok ukur saham-saham regional Asia terpantau turun 0,2 persen pada awal perdagangan.
Sentimen utama yang memengaruhi pergerakan pasar saat ini berfokus pada ketegangan geopolitik dan upaya diplomasi antara Washington dan Teheran. Berdasarkan laporan Bloomberg, pemerintah Amerika Serikat telah memberikan lisensi khusus dengan durasi 60 hari. Kebijakan ini memungkinkan Iran untuk kembali menjual minyak mentah mereka ke pasar internasional.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, memberikan keterangan positif mengenai perkembangan negosiasi tersebut. Ia menggambarkan putaran pertama pembicaraan dengan pihak Iran berjalan dengan sangat baik. Vance bahkan menyatakan bahwa Teheran telah setuju untuk mengizinkan para inspektur nuklir kembali masuk ke negara tersebut guna melakukan pemantauan.
Namun, pernyataan tersebut mendapatkan sanggahan dari pihak Iran. Para pejabat Iran secara tegas menentang klaim yang disampaikan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat tersebut. Menurut mereka, pernyataan yang dilontarkan Vance sama sekali tidak mencerminkan kenyataan yang terjadi di lapangan.
Perbedaan narasi antara kedua belah pihak mengenai hasil negosiasi ini memicu ketidakpastian bagi para pelaku pasar. Ketidakpastian diplomatik ini menjadi faktor utama yang menekan kepercayaan investor, sehingga memicu aksi jual pada sejumlah indeks saham di Asia pada sesi perdagangan pagi ini. Pasar saat ini masih menanti klarifikasi lebih lanjut mengenai status kesepakatan tersebut.







