New York – Indeks saham di Amerika Serikat bergerak bervariasi pada perdagangan Senin (22/6). Tekanan jual yang kuat melanda saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, sehingga menekan indeks S&P 500 dan Nasdaq ke zona merah, sementara Dow Jones Industrial Average justru berhasil mencatatkan penguatan berkat topangan dari sektor kesehatan dan industri.
Data bursa menunjukkan Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 148,01 poin atau 0,29 persen ke level 51.712,71. Sebaliknya, indeks S&P 500 melemah 27,79 poin atau 0,37 persen menjadi 7.472,79, sementara Nasdaq Composite terperosok 351,33 poin atau 1,32 persen ke posisi 26.166,60.
Penurunan indeks utama dipicu oleh koreksi pada saham-saham yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli pasar berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saham Alphabet tercatat turun 5 persen, sementara Meta, Amazon, dan Microsoft mengalami tekanan jual dengan koreksi berkisar antara 2,3 persen hingga 4,7 persen.
Perhatian pasar juga tertuju pada saham SpaceX yang anjlok 16,4 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak perusahaan melantai di bursa, meskipun harga saham milik Elon Musk itu masih bertahan di atas harga penawaran umum perdana sebesar 135 dolar AS per saham. Pada hari yang sama, SpaceX juga meluncurkan penawaran utang perdananya dengan catatan posisi kas dan setara kas mencapai 100,8 miliar dolar AS per 19 Juni.
Direktur Investasi Senior US Bank, Bill Northey, menyatakan bahwa sektor teknologi saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Menurutnya, saham-saham dalam kelompok tersebut cenderung bergerak searah dari hari ke hari. Meski demikian, Northey memandang prospek jangka panjang sektor AI tetap kuat, terutama pada fundamental bisnis pembangunan pusat data yang dilakukan oleh perusahaan hyperscaler maupun penyedia komponen pendukung.
Pasar saat ini tengah menantikan laporan keuangan kuartalan dari Micron Technology yang dijadwalkan rilis pada Rabu mendatang. Emiten produsen chip memori ini menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari tren AI, dengan apresiasi harga saham mencapai hampir 300 persen sepanjang tahun berjalan.
Di luar sektor teknologi, sektor properti dan energi mencatatkan pergerakan positif di tengah pelemahan S&P 500. Sebaliknya, sektor layanan komunikasi mencatatkan kinerja terburuk dengan penurunan sebesar 3,8 persen. Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari.
Meski masih terdapat perbedaan pandangan terkait situasi di Lebanon dan Selat Hormuz, kemajuan dalam pembicaraan di Swiss telah memicu penurunan harga minyak dunia. Northey menilai pelemahan harga energi memberikan dampak positif bagi konsumen dan pelaku usaha. Namun, pasar tetap dibayangi kekhawatiran terhadap kebijakan moneter Federal Reserve yang dinilai semakin agresif di bawah kepemimpinan Ketua baru, Kevin Warsh.
Northey menambahkan bahwa pasar kini meyakini fokus utama bank sentral adalah mengembalikan stabilitas harga dalam waktu dekat. Pandangan tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menekan pasar saham secara umum. Investor kini memantau rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Kamis mendatang sebagai indikator inflasi utama. Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar saat ini memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Di tengah ketidakpastian tersebut, saham Apogee Therapeutics melonjak 46,7 persen menyusul rencana akuisisi senilai 10,9 miliar dolar AS oleh AbbVie, yang sahamnya sendiri turut naik 6,2 persen. Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun di NYSE maupun Nasdaq masih mendominasi pasar, mencerminkan sikap kehati-hatian investor terhadap prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga.







