Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini. Sempat dibuka di level 5.919,56 dan mencapai posisi tertinggi di 5.924,51, indeks kemudian merosot tajam hingga menyentuh titik terendah di level 5.849,86.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman menegaskan, pelemahan IHSG sepanjang sepekan terakhir bukan disebabkan oleh penurunan kinerja emiten. Pasar saat ini tengah terperangkap dalam fase risk-off akibat kombinasi sentimen global dan domestik yang membebani investor.
Menurut Rizal, penguatan dolar AS yang membuat rupiah kian tertekan mendekati level Rp18.000 per dolar AS telah memicu aksi jual masif. Kondisi ini diperburuk dengan adanya arus keluar modal atau capital outflow serta meningkatnya persepsi risiko terhadap ekonomi domestik.
“Investor cenderung melakukan aksi jual secara luas, bahkan pada saham-saham dengan fundamental kuat dan dividen tinggi,” ujar Rizal, Kamis (4/6).
Ia menjelaskan bahwa aksi jual tersebut terjadi karena para pelaku pasar memilih untuk mengurangi eksposur mereka terhadap aset-aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi. Akibatnya, saham yang memiliki performa baik pun tidak luput dari koreksi harga.
Meski pasar sedang dalam tekanan, Rizal melihat adanya peluang bagi investor di tengah penurunan harga saat ini. Banyak saham kini diperdagangkan pada valuasi yang jauh lebih murah dan menarik dibandingkan sebelumnya.
Pemulihan IHSG di masa depan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan kembalinya aliran modal asing ke pasar domestik. Selain itu, kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi akan menjadi kunci utama dalam mendorong kebangkitan indeks.
“Emiten dengan fundamental kuat dan dividend yield tinggi berpotensi menjadi motor rebound ketika sentimen pasar mulai pulih,” pungkasnya.







