Jakarta – Pemerintah mencatat penurunan minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) yang berlangsung pada Selasa, 12 Mei 2026. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan total penawaran yang masuk hanya mencapai Rp 51,39 triliun, angka yang menyusut tajam dibandingkan lelang sebelumnya sebesar Rp 74,95 triliun.
Tidak hanya sepi peminat, realisasi penyerapan dana dalam lelang ini juga berada di bawah target yang ditetapkan. Kementerian Keuangan sempat mematok target indikatif sebesar Rp 36 triliun, namun pemerintah hanya memenangkan nominal sebesar Rp 30,3 triliun dari sembilan seri obligasi yang ditawarkan.
Sembilan seri yang dilelang pemerintah terdiri dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan obligasi Fixed Rate (FR), yakni SPN01260617, SPN12260813, SPN12270517, FR0109, FR0108, FR0106, FR0107, FR0102, dan FR0105.
Dari seluruh seri tersebut, investor menunjukkan minat tertinggi pada seri FR0109 dengan nilai penawaran masuk mencapai Rp 14,982 triliun serta imbal hasil atau yield tertimbang sebesar 6,67889 persen. Posisi selanjutnya ditempati oleh seri FR0108 dengan penawaran Rp 7,4815 triliun dan yield 6,72993 persen.
Capaian lelang kali ini tergolong lesu jika dibandingkan dengan performa pada periode 28 April 2026, di mana pemerintah mampu menyerap dana hingga Rp 40 triliun dari total penawaran Rp 74,95 triliun. Tren penurunan ini kontras dengan lelang pada 14 April 2026 yang sempat menembus angka penawaran Rp 78,4 triliun.
Lelang obligasi rutin ini merupakan instrumen krusial bagi pemerintah dalam membiayai APBN dan menutup defisit yang tahun ini ditargetkan sebesar Rp 689,1 triliun. Sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026, pemerintah mematok target pembiayaan utang sebesar Rp 832,2 triliun, meningkat dibandingkan target tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 775,9 triliun.













