Ecozone

Indonesia Berpotensi Ekspor 1,5 Juta Ton Pupuk ke Timur Tengah

52
×

Indonesia Berpotensi Ekspor 1,5 Juta Ton Pupuk ke Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
15f545e79414e26192f4bcaea79087d5.jpg
15f545e79414e26192f4bcaea79087d5.jpg

Jakarta – Pemerintah Indonesia menangkap peluang emas untuk menggenjot ekspor pupuk ke pasar global di tengah terganggunya jalur distribusi internasional di Selat Hormuz, Timur Tengah. Lonjakan permintaan urea dari berbagai negara kini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai salah satu produsen pupuk terbesar di dunia.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan pemerintah telah menyiapkan stok sebanyak 1,5 juta ton pupuk untuk kebutuhan ekspor dalam setahun ke depan. Langkah ini diambil setelah sejumlah negara, seperti India, Filipina, dan Australia, secara resmi menyatakan minatnya untuk membeli pasokan pupuk dari Indonesia.

Terganggunya distribusi pupuk global akibat gejolak di Selat Hormuz menyebabkan banyak negara mengalami kelangkaan pasokan. Kondisi ini memicu kenaikan harga urea dunia yang signifikan, dari kisaran 400 dolar AS menjadi 800 dolar AS per ton.

Melihat tingginya permintaan pasar internasional, pemerintah memutuskan untuk membatalkan rencana penutupan sejumlah pabrik pupuk dalam negeri yang sebelumnya sempat diwacanakan. Pabrik-pabrik tersebut kini tetap beroperasi penuh untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menangkap peluang ekspor yang menguntungkan.

Meski peluang ekspor terbuka lebar, Sudaryono menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan petani lokal tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Distribusi pupuk untuk sektor pertanian dalam negeri dipastikan tidak akan terganggu oleh kebijakan ekspor ini.

Saat ini, kapasitas produksi nasional tercatat mencapai 8,8 juta ton secara operasional. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) terus memantau situasi pasar agar penyaluran ekspor tetap fleksibel sesuai dengan kondisi pasokan domestik. Kebijakan ini juga telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di perdagangan global.