New York – Indeks saham di bursa Wall Street, Amerika Serikat, kompak ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (17/6). Pelemahan pasar modal ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi jangka pendek setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen.
Berdasarkan data perdagangan, indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 1,2 persen pada penutupan pukul 16.00 waktu New York. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing mengalami koreksi sebesar 1 persen.
Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menyatakan bahwa stabilitas harga akan menjadi prinsip utama dalam pengambilan kebijakan ke depan. Ia menambahkan bahwa pasar uang saat ini telah sepenuhnya mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga pada Oktober mendatang.
Keputusan para pembuat kebijakan The Fed untuk menahan suku bunga ini menandai kali keempat secara berturut-turut bank sentral AS tersebut tidak mengubah level bunga. Saat ini, fokus kebijakan The Fed telah bergeser dari kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja menuju pengendalian inflasi.
Para pejabat bank sentral saat ini memiliki pandangan yang terbagi mengenai arah kebijakan tahun ini. Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan pejabat memperkirakan setidaknya terjadi satu kali kenaikan suku bunga. Sementara itu, enam pejabat lainnya mengantisipasi setidaknya dua kali kenaikan, dan sembilan pejabat lainnya memperkirakan tidak ada pergerakan atau justru pemotongan suku bunga. Di sisi lain, Kevin Warsh memilih untuk tidak memberikan proyeksi pribadinya.
Dalam pernyataannya, para pejabat The Fed menggambarkan kondisi pertumbuhan ekonomi sebagai sesuatu yang solid. Mereka juga menilai bahwa pertumbuhan produktivitas serta investasi modal saat ini berada dalam posisi yang kuat. Terkait target inflasi sebesar 2 persen, Warsh menegaskan tidak ada rencana untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap target tersebut.
Analis dari Goldman Sachs Asset Management, Kay Haigh, menilai pergeseran sikap hawkish The Fed saat ini tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga energi. Menurutnya, meskipun harga minyak sempat mengalami penurunan, sebanyak setengah dari anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tetap berekspektasi adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Hal tersebut mencerminkan kuatnya data pasar tenaga kerja dan inflasi yang ada.
Senada dengan hal tersebut, analis dari Edward Jones, James McCann, berpendapat bahwa tekanan inflasi kemungkinan akan mereda dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan membaiknya aliran pasokan minyak dari Timur Tengah. Meski demikian, ia mencatat bahwa ambang batas bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga kini terlihat lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Selain kebijakan suku bunga, Kevin Warsh juga telah menunjuk sebuah gugus tugas khusus. Kelompok ini bertugas untuk meninjau neraca bank sentral yang saat ini mencapai nilai 6,7 triliun dolar AS. Langkah ini merupakan tindakan awal dalam menanggapi masalah kebijakan yang selama ini sering dikritik oleh Warsh. Gugus tugas tersebut akan melakukan analisis mendalam untuk menentukan apakah kebijakan moneter ke depan lebih efektif menggunakan instrumen suku bunga atau melalui penyesuaian neraca.







