Guangzhou – Universitas Indonesia (UI) dorong penguatan kemitraan strategis dengan Tiongkok. Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah, menyampaikan hal ini sebagai pembicara kunci di Southeast Asia Forum 2025, Guangzhou, Tiongkok.
Prof. Heri menyoroti pentingnya model triple helix, yang melibatkan pemerintah, industri, dan universitas. Model ini dinilai krusial dalam menciptakan inovasi yang berdampak signifikan.
Sinergi antara potensi Indonesia dan keunggulan teknologi Tiongkok diyakini dapat mempercepat transformasi industri. Selain itu, sinergi ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Perjalanan pembangunan Tiongkok memberikan banyak wawasan berharga bagi Indonesia,” kata Prof. Heri di hadapan ratusan peserta luring dan ribuan peserta daring.
Investasi Tiongkok dalam infrastruktur dan teknologi dinilai sangat pesat. Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi besar untuk saling melengkapi.
Indonesia memiliki populasi muda, pasar yang berkembang, dan sumber daya alam melimpah. Sementara itu, Tiongkok unggul dalam manufaktur, teknologi 5G, kecerdasan artifisial, kendaraan listrik, dan energi hijau.
Kolaborasi triple helix adalah kunci untuk mencapai kerja sama yang optimal. Pemerintah berperan menyediakan kebijakan dan insentif, industri mendorong investasi dan komersialisasi, sementara universitas menjadi pusat riset dan pengembangan sumber daya manusia.
Prof. Heri mencontohkan keberhasilan model ini di Tiongkok melalui kolaborasi antara Huawei dan Tsinghua University, yang didukung penuh oleh pemerintah.
UI, sebagai aktor kunci, berperan penting dalam menciptakan pengetahuan, melakukan transfer teknologi, memberikan rekomendasi kebijakan, dan mengembangkan talenta nasional yang kompetitif.
Konferensi internasional yang berlangsung pada 15-16 November 2025 ini merupakan hasil kolaborasi South China Normal University (SCNU) dengan berbagai lembaga lainnya.







