Ecozone

Modal Asing Banjiri Ringgit, Rupiah Kini Hadapi Tekanan Pasar

13
×

Modal Asing Banjiri Ringgit, Rupiah Kini Hadapi Tekanan Pasar

Sebarkan artikel ini
069086329f51a9bc5743a2d2187cc973.jpg
069086329f51a9bc5743a2d2187cc973.jpg

Kuala Lumpur, Fenesia.com – Disparitas performa mata uang di kawasan Asia semakin melebar seiring dengan pemulihan ekonomi Malaysia yang kontras dengan tekanan berat yang dialami rupiah Indonesia.

Ringgit Malaysia diproyeksikan akan mencatatkan penguatan signifikan pada paruh kedua tahun ini berkat kebijakan strategis Bank Negara Malaysia (BNM).

Analis dari Bloomberg mencatat bahwa ringgit telah menunjukkan kebangkitan luar biasa setelah sempat terpuruk sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang Juni lalu.

Pemulihan ini didorong oleh inisiatif BNM yang mewajibkan perusahaan untuk memulangkan dan mengonversi devisa hasil pendapatan luar negeri ke dalam mata uang lokal.

Langkah intensifikasi arus masuk devisa yang diumumkan pada 24 Juni tersebut terbukti efektif menjadikan ringgit sebagai mata uang berkinerja terbaik di Asia saat ini.

Royal Bank of Canada (RBC) memproyeksikan ringgit dapat menguat hingga mencapai level 3,95 per dolar AS pada akhir tahun mendatang.

Optimisme lebih tinggi disampaikan oleh Australia & New Zealand Banking Group (ANZ) yang memperkirakan mata uang Malaysia tersebut berpotensi menembus level 3,80 per dolar AS.

Level tersebut akan menjadi posisi terkuat bagi ringgit sejak tahun 2015 silam.

Dukungan fundamental ekonomi Malaysia saat ini memang sedang berada di puncak performa.

Hal ini terlihat dari surplus perdagangan yang besar serta lonjakan ekspor yang cukup signifikan.

Derasnya arus masuk dana asing ke pasar obligasi Malaysia juga menjadi katalis utama penguatan nilai tukar.

Malaysia kini menikmati berkah dari tingginya permintaan global terhadap produk elektronik.

Selain itu, pembangunan pusat data atau data center sebagai imbas pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan turut menyokong ekonomi domestik.

Data menunjukkan ekspor Malaysia pada Mei melonjak tajam sebesar 45 persen secara tahunan.

Lonjakan tersebut mendorong surplus perdagangan mencapai rekor bulanan senilai 40 miliar ringgit atau setara dengan 9,8 miliar dolar AS.

Investor global bahkan telah memborong obligasi Malaysia senilai 2,1 miliar dolar AS hingga akhir Juni lalu.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi arus masuk bulanan terbesar bagi pasar obligasi Malaysia sejak Mei 2025.

Situasi berbeda justru dialami oleh Indonesia yang kini tengah berada di bawah bayang-bayang tekanan ekonomi.

Fitch Ratings memberikan peringatan keras bahwa peringkat utang Indonesia dapat terancam jika cadangan devisa terus menyusut.

Lembaga tersebut menekankan bahwa kepercayaan investor menjadi faktor krusial yang saat ini belum sepenuhnya pulih.

“Penurunan cadangan devisa yang berkelanjutan dan tajam, terutama jika didorong oleh arus keluar modal yang terus-menerus terkait dengan kepercayaan investor yang lebih lemah atau pelemahan lebih lanjut dalam indikator tata kelola, dapat menambah tekanan pada peringkat rating Indonesia,” tulis Fitch Ratings dalam laporannya.

Beliau menambahkan bahwa cadangan devisa bruto Indonesia tercatat merosot 4,6 persen sepanjang Maret hingga Mei 2026.

Intervensi valuta asing yang dilakukan Bank Indonesia dinilai telah menguras cadangan devisa dan memperketat likuiditas domestik.

Posisi short net valuta asing Indonesia bahkan telah mencapai angka hampir 27 miliar dolar AS pada akhir Mei lalu.

Kondisi diperparah dengan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan defisit bulanan sebesar 1,61 miliar dolar AS pada periode yang sama.

Ekspor Indonesia sendiri dilaporkan turun sebesar 5,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 23,2 miliar dolar AS.